Penelitianyang sama juga membuktikan bahwa membaca Al-Qur'an selepas sholat maghrib dan subuh mampu meningkatkan kecerdasan otak hingga 80 %. Hal ini disebabkan pada kedua waktu tersebut otak masih dalam keadaan fresh karena ada pergantian waktu dari terang ke gelap dan dari gelap ke terang. Penelitianini ada beberapa aspek yang terdapat dalam Al-Quran surah Luqman ayat 12-19 yang bersumber dari 3 tafsir, dari ketiga tafsir tersebut, ayat yang memiliki aspek kecerdasan spiritual terdapat pada ayat 12,13,15,16,17 dan ayat yang memiliki aspek kecerdasan emosional terdapat pada ayat 14, 17, 18, dan 19. Tahfidhsihah al-aqli F. Kecerdasan kembali pada semula KECERDASAN DALAM PANDANGAN AL-QU'RAN Dedeng Rosidin . A.Al-Qur'an menyuruh berfikir agar menjadi cerdas 1.Arti al-Nadhru Memikirkan dan menyelidiki - Atau dengan pengertian lain yaitu pengetahuan yang diperoleh setelah menyelidiki. Berbagaipendapat dikemukakan oleh para pakar pendidikan mengenai kecerdasan emosional. Salovey menyatakan, EQ adalah kemampuan seseorang dalam mengenali emosi Sesungguhnya al Quran ini memberikan petunjuk baik secara pribadi maupun kelompok. Dalam al-Qur'an banyak terdapat ayat yang berisi tentang ajaran agar seseorang selalu Padaawal-awal saya memberikan beberapa kutipan ayat yang berisi tentang hal-hal yang berbau tentang berakal, berpikir, berilmu dan pengetahuan. Masyaallah ternyata di alquran teori itu sudah ada sejak 1400-1500 thn yg lalu bahkan sebelum para peneliti tahu. artinya quran ini benar2 dari tuhan bkn dari manusia. maka semakin bertambah nlYY7. KECERDASAN MENURUT AL-QURAN Abdur Rokhim Hasan Pendahuluan Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna At-Tin 5. Secara fisik, manusia memiliki struktur tubuh yang sangat sempurna, ditambah lagi dengan pemberian akal, maka ia adalah makhluk jasadiyah dan ruhaniyah. Akal yang dianugrahkan kepada manusia memiliki tingkatan kecerdasan yang berbeda-beda. Banyak orang meyakini bahwa orang yang cerdas adalah orang yang memiliki kemampuan Intelligence Quotient IQ yang tinggi, namun pada kenyataannya, tidak semua orang yang memiliki kemampuan IQ yang tinggi itu memiliki kemampuan adaptasi, sosialisi, pengendalian emosi, dan kemampuan spiritual. Banyak orang yang memiliki kecerdasan IQ, namun ia tidak memiliki kemampuan untuk bergaul, bersosialisai dan membangun komunikasi yang baik dengan orang lain. Banyak juga orang yang memiliki kemampuan IQ, tapi ia tidak memiliki kecerdasan dalam melakukan hal-hal yang dapat menentukan kebehasilannya di masa depan, prioritas-prioritas apa yang mesti dilakukan untuk menuju sukses dirinya. Pada tahun 2004 Tes IQ menjadi tren di SD-SD di berbagai kota besar. Untuk meningkatkan โ€œgengsiโ€, sekolah ramai-ramai menyeleksi anak-anak yang hendak masuk sekolah dengan tes IQ . Mereka berteori bahwa sekolah yang baik adalah jika para siswanya pintar-pintar, dan siswa yang pintar itu jika IQ-nya di atas rata-rata. Karena itulah mereka menyelenggarakan tes IQ. Meskipun mereka kurang begitu memahami kerangka landasan teoretis dan filosofisnya; untuk apa tes IQ itu, apa kelemahan dan kelebihannya, dan kapan semestinya hal itu dilakukan [1]. Dalam pendahuluan bukunya, Revolusi IQ/EQ/SQ, Taufik Pasiak mengungkapkan bahwa di antara dokter yang lulus tepat waktu 6,5 โ€“ 7 tahan dengan Indek Prestasi Komulatif IPK di atas 3,0 merupakan dokter-dokter yang gagal, baik sebagai kepala Puskesmas maupun dokter praktik swasta. Ketika menjadi kepala Puskesmas, mereka menjadi pemimpin yang gagal. Ketika membuka praktik, mereka kekurangan pasien, sementara kawan-kawan mereka hampir drop out karena terlalu lama sekolah juga dengan IPK biasa, justru menjadi dokter-dokter yang berhasil ketika bekerja di lingkungan masyarakat. Di antaranya bahkan menjadi dokter teladan [2]. Intelligence Quotient IQ telah memonopoli teori kecerdasan. Kecerdasan seseorang hanya diukur lewat hasil tes inteligensi, yang logis-matematis, kuantitatif dan linear. Akibatnya, sisi-sisi kecerdasan manusia yang lainnya terabaikan. Hegemoni teori kecerdasan IQ memang tidak terlepas dari latar belakang historis, ilmiah, dan kultural. Secara historis, teori kecerdasan IQ memang merupakan teori kecerdasan pertama dan sudah berumur 200 tahun lebih, yang dimulai dari Frenologi Gall[3]. Pada awalnya, dikenal bahwa kecerdasan seseorang adalah mereka yang memilki kualitas IQ yang sangat tinggi, Hal demikian tidaklah salah karena pada awal sejarah perkembangannya, untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang adalah dengan mengetahui IQ nya. Orang yang pertama kali berpikir mengenai mungkinnya dilakukan pengukuran intelegensi atau kecerdasan adalah Galton, sepupu Darwin. Hal yang mendorongnya untuk memiliki pemikiran demikian adalah karena Galton tertarik pada perbedaan-perbedaan individual dan pada hubungan antara hereditas dan kemampuan mental. Menurut Galton ada dua kualitas umum yang dapat membedakan antara orang yang lebih cerdas more intelligent dari orang yang kurang cerdas less intelligent yaitu energi dan sensitivitas. Menurutnya, orang cerdas itu memiliki tingkat energi yang istimewa dan sensitivitas terhadap rangsangan di sekitarnya. Mengacu kepada kesimpulan Howard Gardner, temuan-temuan ilmiah bagi perkembangan teori kecedasan manusia, sesungguhnya juga sudah lama ditemukan oleh saintis, terutama neuro-saintis. Sampai akhirnya Howard Gardner yang dengan sangat serius menstudinya, dan ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa kecerdasan manusia itu tidak tunggal, tapi majmuk, bahkan tak terbatas. Belakangan teori kecerdasan Howard Gardner ini dikenal dengan Multiple Intelligence Kecerdasan Majmuk yaโ€™ni Linguistic Intelligence Kecerdasan Bahasa Logico-Mathematical Intelligence Kecerdasan Logis-Matematis; Visual-Spatial Intelligence Kecerdasan Visual-Spasial; Bodily-Kinesthetic Intelligence Kecerdasan Kinestetik; Musical Intelligence Kecerdasan Musik; Interpersonal Intelligence Kescerdasan Antarpribadi; Intrapersonal Intelligence Kecerdasan Intrapesonal; dan Natural Intelligence Kecerdasan Natural[4]. Melalui makalah ini, Penulis ingin mengungkap sesungguhnya kecerdasan macam apakah yang dikehendaki oleh al-Qurโ€™an. Pengertian Kecerdasan Kecerdasan didefinisikan bermacam-macam. Para ahli, termasuk para psikolog, tidak sepakat dalam mendefinisikan apa itu kecerdasan. Bukan saja karena definisi kecerdasan itu berkembang, sejalan dengan perkembangan ilmiah menyangkut studi kecerdasan dan sains-sains yang berkaitan dengan otak manusia, seperti neurologi, neurobiologi atau neurosains dan penekanannya. Tetapi juga karena penekanan definisi kecerdasan tersebut, sudah barang tentu akan sangat bergantung, pertama, pada pandangan dunia filsafat manusia, dan filsafat ilmu yang mendasarinya. Kedua, bergantung pada teori kecerdasan itu sendiri. Sebagai contoh, teori kecerdasan IQ sudah barangtentu akan berbeda dengan teori Emosioal Intelligence IQ dan Spiritual Quotient SQ dalam mendefinisikan kecerdasan. Namun demikian, semakin tak terbantahkan bahwa teori IQ semakin tergugat dan dipandang memiliki seperangkat kelemahan, baik dalam arti ilmiah maupun metodologis. Walaupun para ahli tidak sepakat dalam mendefinisikan apa itu kecerdasan. Bahkan menurut Morgan sebagaimana dikutip oleh Agus Efendi, kecerdasan itu sulit didefinisikan, namun penulis menghadirkan definisi kecerdasan yang mungkin bisa mewakili dari sekian banyak definisi. Menurut Howard Gordner definisi kecerdasan sebagaimana dikutip oleh Agus Efendi, adalah kemampuan untuk memecahkan atau menciptakan sesuatu yang bernilai bagi budaya tertentu. Sedangkan menurut Alfred binet dan Theodore Simon, kecerdasan terdiri dari tiga komponen 1 kemampuan mengarahkan pikiran dan atau tindakan, 2 kemampuan mengubah arah tindakan jika tindakan tersebut telah dilakukan, dan 3 kemampuan mengkritik diri sendiri[5]. Definisi kecerdasan lain adalah definisi kecerdasan dari Piaget, Menurut William H. Calvin, dalam bukunya How Brain Thinks Bagaimana otak berfikir?, Piaget mengatakan, โ€œIntelligence is what you use when you donโ€™t know what to doโ€ Kecerdasan adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan.โ€ Sehingga menurut Calvin, seseorang itu dikatakan smart jika ia terampil dalam menemukan jawaban yang benar untuk masalah pilihan hidup. Sedang menurut Sternberg, 65 tahun setelah simposium Journal Psikologi Pertama, 24 orang ahli diminta untuk mengajukan definisi kecerdasan, mereka mengaitkan kecerdasan tersebut dengan tema belajar dari pengalaman dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Lebih dari para ahli sebelumnya, mereka menekankan pengertian kecerdasan pada peranan metakognisi- pemahaman orang dan kontrol atas proses berpikir mereka seperti selama melakukan pemecahan masalah, penalaran, dan pembuatan keputusan dan lebih menekankan pada peranan budaya. Seseorang yang dipandang cerdas dalam sebuah budaya boleh jadi dipandang bodoh dalam budaya yang lain[6]. Begitulan, banyanya definisi kecerdasan, sesuai dengan banyaknya jenis-jenis kecerdasan itu sendiri. Dalam literatur Islam ada beberapa kata yang apabila ditinjau dari pengertian etimologi memiliki makna yang sama atau dekat dengan kecerdasan, antara lain Al-fathanah atau al-fithnah, yang artinya cerdas, juga memiliki makna sama dengan al-fahm paham lawan dari al-ghabawah bodoh[7]. Adz-dzakaโ€™ yang berarti hiddah al-fuad wa surโ€™ah al-fithnah tajamnya pemahaman hati dan cepat paham[8]. Ibn Hilal al-Askari membedakan antara al-fithnah dan adz-dzakaโ€™, bahwa adz-dzakaโ€™ adalah tamam al-fithnah[9] kecedasan yang sempurna. Al-hadzaqah , di dalam kamus Lisan al-Arab, al-hadzaqah diberi maโ€™na al-Maharah fi kull amal mahir dalam segala pekerjaan[10]. An-Nubl dan an-Najabah, menurut Ibn Mandzur an-Nubl artinya sama dengan adz-dzakaโ€™ dan an-najabah yaโ€™ni cerdas[11]. An-Najabah, berarti cerdas. Al-Kayyis, memiliki maโ€™na sama dengan al-aqil cerdas.Rasulullah saw. Mendefinisikan kecerdasan dengan menggunakan kata al-kayyis, sebagaimana dalam hadits berikut ุนูŽู†ู’ ุดูŽุฏู‘ูŽุงุฏู ุจู’ู†ู ุฃูŽูˆู’ุณู ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽูŠู‘ูุณู ู…ูŽู†ู’ ุฏูŽุงู†ูŽ ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ูˆูŽุนูŽู…ูู„ูŽ ู„ูู…ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู [12] ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ โ€œDari Syaddad Ibn Aus, darr Rasulullah saw. Bersabda orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan beramal untuk persiapan sesudah mati At-Tirmidziโ€. Al-Mawardi dalam kitab Adab ad-Dunya wa ad-Ddin pada bab pertama menjelaskan tentang keutamaan akal, bahwa segala yang mulia memilki asas dan segala etika memiliki sumber, asas bagi segala kemuliaan dan sumber bagi segala etika adalah akal. Lebih lanjut Al-Mawardi menyimpulkan definisi akal yaitu pengetahuan tentang hal-hal yang diketahui secara langsung[13]. Kecerdasan Menurut Al-Quran Apabila kita meneliti ayat-ayat al-Quran, kata-kata yang memiliki arti kecerdasan, sebagaimana yang telah dijelaskan tersebut di atas, yaitu al-Fathanah, adz-dzakaโ€™, al-hadzaqah, an-nubl, an-najabah, dan al-kayyis tidak digunakan oleh al-Quran. Definisi Kecerdasan secara jelas juga tidak ditemukan, tetapi melalui kat-kata yang digunakan oleh al-Qurโ€™an dapat disimpulkan makna Kecerdasan. Kata yang banyak digunakan oleh al-Quran adalah kata yang memiliki makna yang dekat dengan Kecerdasan, seperti kata yang seasal dengan kata al-aql, al-lubb, al-fikr, al-Bashar, al-nuha, al-fiqh, al-fikr, al-nazhar, al-tadabbur, dan al-dzikr. Kata-kata tersebut banyak digunakan di dalam al-Quran dalam bentuk kata kerja, seperti kata taโ€™qilun. Para ahli tafsir, termasuk di antaranya Muhammad Ali Al-Shabuni, menafsirkan kata afala taโ€™qilun โ€œapakah kamu tidak menggunakan akalmuโ€[14]. Dengan demikian Kecerdasan menurut al-Quran diukur dengan penggunaan akal atau kecerdasan itu untuk hal-hal positif bagi dirinya maupun orang lain. Kata-kata yang memiliki makna yang dekat mirip dengan Kecerdasan yang banyak digunakan di dalam al-Quran adalah Alโ€“Aql, yang berarti an-Nuha kepandaian, kecerdasan.Akal dinamakan akal yang memilki makna menahan, karena memang akal dapat menahan kepada empunya dari melakukan hal yang dapat menghancurkan dirinya[15] .Kata aql tidak pernah disebut sebagai nomina ism, tapi selalu dalam bentuk kata kerja fiโ€™l. Di dalam al-Quran kata yang berasal dari kata aql berjumlah 49 kata, semuanya berbentuk fiโ€™l mudhariโ€™, hanya 1 yang berbentuk fiโ€™l madhi. Dari banyaknya penggunaan kata-kata yang seasal dengan kata aql, dipahami bahwa al-Quran sangat menghargai akal, dan bahkan Khithab Syarโ€™i Khithab hukum Allah hanya ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Banyak sekali ayat-ayat yang mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya. Di sisi lain penggunaan kata yang seasal dengan aql tidak berbentuk nomina ism tapi berbentuk kata kerja fiโ€™l menunjukkan bahwa al-Quran tidak hanya menghargai akal sebagai kecerdasan intelektual semata, tapi al-Quran mendorong dan menghormati manusia yang menggunakan akalnya secara benar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sternberg yang dikutip oleh Agus Efendi, โ€œTes IQ sesungguhnya bukan pada seberapa banyak kecerdasan yang anda miliki dalam otak anda. Akan tetapi bagaimana anda menggunakan kecerdasan yang harus anda buat menjadi dunia yang lebih baik bagi diri anda sendiri, dan orang lainโ€ Walhasil, kecerdasan bukanlah yang anda miliki, Kecerdasan lebih merupakan sesuatu yang anda gunakan[16]. Itulah yang dimaksud dengan kecerdasan majmuk sebagaimana disampaikan oleh Horward Gordner, kecerdasan yang mencakup banyak aspek kehidupan, bukan kecerdasan intelektual semata. Bentuk dari kata aql yang dirangkaikan dalam sebuah kalimat pertanyaan, seperti afala taโ€™qilun apakah kamu tidak menggunakan akalmu terdapat 13 buah di dalam al-Qurโ€™an. Hal ini menunjukkan bahwa Allah swt. mempertanyakan kecerdasan mereka, dengan akal yang sudah diberikan. Al-Lubb atau al-Labib, yang bearti al-aql atau al-aqil, dan al-labib sama dengan al-aql[17]. Di dalam al-Quran Kata al-albab disebut 16 kali, dan kesemuanya didahului dengan kata ulu atau uli yang artinya pemilik, ulu al-albab berarti pemilik akal. Al-bashar, yang berarti indra penglihatan, juga berarti ilmu[18]. Di dalam Kamus Lisan al Arab, Ibn Manzhur mengemukakan bahwa ada pendapat yang mengatakan ; al-bashirah memiliki maโ€™na sama dengan al-fithnah kecerdasan dan al-hujjah argumntasi[19]. Al-Jurjani mendefinisikan al-Bashirah, adalah suatu kekuatan hati yang diberi cahaya kesucian, sehingga dapat melihat hakikat sesuatu dari batinnya. Para ahli hikmah menamakannya dengan ; al-aqilah an-nazhariyyah wa alquwwah al-qudsiyyah kecerdasan bepikir dan kekuatan suci atau ilahi[20].Abu Hilal al-Askari membedakan antara al-bashirah dan al-ilm ilmu, bahwa al-bashirah adalah kesempurnaan ilmu dan pengetahuan[21]. Di dalam al-Quran, kata yang berasal dari kata al-bashar, dengan berbagai macam bentuk, jumlahnya cukup banyak, yaitu berjumah 142 kata, yang berbentuk kata al-bashir berjumlah 53 kata, hampir kesemuanya menjadi sifat Allah swt. kecuali 6 kata yang menjadi sifat manusia, 4 diantaranya kata al-bashir menjelaskan perbedaan antara manusia yang buta dan melihat. Sedangkan kata bashirah terdapat pada 2 ayat, yaitu pada surah Yusuf 108 dan al-Qiyamah 14. sedangkan kata bashair yaitu bentuk jamaโ€™ dari bashirah disebut dalam al-Quran sebanyak 5 kali. Dalam menafsirkan kata bashirah yang ada pada surat Yusuf 108, al-Baghawi dan Sayyid Thanthawi menjelaskan maโ€™na al-bashirah adalah pengetahuan yang dengannya manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah [22]. Kata al-abshar yaitu bentuk jamaโ€™ dari al-bashar berjumlah 8 ayat, 3 diantaranya didahului kata ulu mempunyai, yaโ€™ni Surah Ali Imran 13, an-Nur 44, dan al-Hasyr 2. An-Nuha,maโ€™nanya sama dengan al-aql, dan akal dinamakan an-nuha yang juga memiliki arti mencegah, karena akal mencegah dari keburukan. Kata an-nuha di dalam al-Quran terdapat pada 2 tempat, keduanya ada pada Surat thaha ; 54, 128 dan keduanya diawali dengan kata uli pemilik. Al-fiqh yang berarti pemahaman atau ilmu. Di dalam al-Quran, Kata yang seasal dengan al-Fiqh terdapat pada 20 ayat, kesemuanya menggunakan kata kerja fiโ€™l mudhariโ€™, hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman itu seharusnya dilakukan secara terus menerus. Kata al-fiqh juga berarti al-fithnah kecerdasan[23]. Al-Fikr, yang artinya berpikir. Kata yang seakar dengan al-fikr terdapat pada 18 ayat. Kesemuanya berasal dari bentuk kata at-tafakkur, dan semuannya berbentuk kata kerja fiโ€™l, hanya satu yang berbentuk kata fakkara, yaitu pada Surat al-Mudatstsir 18. Al-Jurjani mendefinisikan, at-tafakkur adalah pengerahan hati kepada makna sesuatu untuk menemukan sesuatu yang dicari, sebagai lentera hati yang dengannya dapat mengetahui kebaikan dan keburukan[24]. An-nazhar yang memiliki makna melihat secara abstrak berpikir, Di dalam kamus Taj al-Arus disebutkan termasuk makna an-nazhar adalah menggunakan mata hati untuk menemukan segala sesuatu, an-nazhar juga berarti al-iโ€™tibar mengambil pelajaran, at-taammul berpikir, al-bahts meneliti[25]. Untuk membedakan antara an-nazhar dan al-Ruโ€™yah, Abu Hilal al-Askari memberikan definisi bahwa al-nazhar adalah mencari petunjuk, juga berarti melihat dengan hati [26]. Di dalam al-Quran terdapat kata yang seasal dengan an-nazhar lebih dari 120 ayat At-tadabbur yang semakna dengan at-tafakkur, terdapat dalam al-Quran sebanyak 8 ayat. Al-Jurjani memberikan definisi at-tadabbur, adalah berpikir tentang akibat suatu perkara, sedangkan at-tafakkur adalah pengerahan hati untuk berpikir tentang dalil petunjuk[27]. Adz-dzikr yang berarti peringatan, nasehat, pelajaran[28]. Dalam al-Quran terdapat kata yang seasal dengan adz-dzikr berjumlah 285 kata, 37 diantaranya adalah yang berasal dari bentuk kata at-tadzakkur yang berarti mengambil pelajaran. 1. Taโ€™qilun 2. Yaโ€™qilun No. Surat Ayat No. Surat Ayat 1 Al-Baqarah 44 1 Al-Baqarah 164 2 Al-Baqarah 73 2 Al-Baqarah 170 3 Al-Baqarah 76 3 Al-Baqarah 171 4 Al-Baqarah 242 4 Al-Maidah 58 5 Ali Imran 65 5 Al-Maidah 103 6 Ali Imran 118 6 Al-Anfal 22 7 Al-Anโ€™am 32 7 Yunus 42 8 Al-Anโ€™am 151 8 Yunus 100 9 Al-Aโ€™raf 169 9 Al-Raโ€™d 4 10 Yunus 16 10 Al-Nahl 12 11 Hud 51 11 Al-Nahl 67 12 Yusuf 2 12 Al-Hajj 46 13 Yusuf 109 13 Al-Furqan 44 14 Al-Anbiyaโ€™ 10 14 Al-Ankabut 35 15 Al-Anbiyaโ€™ 67 15 Al-Ankabut 63 16 Al-Muโ€™minun 80 16 Al-Rum 24 17 Al-Nur 61 17 Al-Rum 28 18 Al-Syuโ€™ara 28 18 Yasin 68 19 Al-Qashash 60 19 Al-Zumar 43 20 Yasin 62 20 Al-Jatsiyah 5 21 Al-Shaffat 138 21 Al-Hujurat 4 22 Ghafir 67 22 Al-Hasyr 14 23 Al-Zukhruf 3 24 Al-Hadid 17 3. Tubshirun 4. Yubshirun No. Surat Ayat No. Surat Ayat 1 Al-Anbiyaโ€™ 3 1 Al-Baqarah 17 2 Al-Naml 54 2 Al-Aโ€™raf 179 3 Al-Qashash 72 3 Al-Aโ€™raf 195 4 Al-Zukhruf 51 4 Al-Aโ€™raf 198 5 Al-Dzariyat 21 5 Yunus 43 6 Al-Thur 15 6 Hud 20 7 Al-Waqiโ€™ah 85 7 As-Sajdah 27 8 Al-Haqqah 38 8 Yasin 9 9 Al-Haqqah 39 9 Yasin 66 10 Al-Shaffat 175 11 Al-Shaffat 179 12 Al-Qalam 5 1. Tafqahun 2. Yafqahun No. Surat Ayat No. Surat Ayat 1 Al-Israโ€™ 44 1 Al-Nisaโ€™ 78 2 Al-Anโ€™am 65 3 Al-Anโ€™am 98 4 Al-Aโ€™raf 179 5 Al-Anfal 65 6 Al-Taubah 81 7 Al-Taubah 87 8 Al-Taubah 127 9 Al-Kahf 93 10 Al-Fath 15 11 Al-Haswyr 13 12 Al-Munafiqun 3 13 Al-Munafiqun 7 1. Tatafakkarun 2. Yatafakkarun No. Surat Ayat No. Surat Ayat 1 Al-Baqarah 219 1 Ali Imran 191 Al-Anโ€™am 50 2 Al-Aโ€™raf 176 3 Yunus 24 4 Al-Raโ€™d 3 5 Al-Nahl 44 6 Al-Nahl 69 7 Al-Rum 21 8 Al-Zumar 42 9 Al-Jatsiyah 13 10 Al-Hasyr 21 1. Tatadzakkarun 2. Yatadzakkarun No. Surat Ayat No. Surat Ayat 1 Al-Anโ€™am 80 1 Al-Baqarah 221 Al-Sajdah 4 2 Ibrahim 25 Ghafir 58 3 Al-Qashash 43 4 Al-Qashash 46 5 Al-Qashash 51 6 Al-Zumar 27 7 Al-Dukhan 58 Dari kata-kata tersebut, yang banyak digunakan oleh al-Quran, penulis akan mengungkap berbagai macam kecerdasan menurut al-Quran. Jenis-Jenis Kecerdasan menurut al-Quran Agus Efendi menyimpulkan dari beberapa pendapat ahli, ada 14 lebih jenis kecerdasan 1. Intelligence Quotient Kecerdasan Inteligensi. 2. Multiple Intelligence Kecerdasan Majmuk. 3. Practical Intelligence Kecerdasan Praktis 4. Emotional Intelligence Kecerdasan Emosional 5. Entrepreneurial Intelligence Kecerdasan Berwiraswasta 6. Financial Intelligence kecerdasan Finansial 7. Adversity Quotient Kecerdasan Advesitas 8. Aspiration Intelligence Kecerdasan Aspirasi 9. Power Intelligence Kecerdasan Kekuatan 10. Imagination Intelligence Kecerdasan Imajinasi 11. Intuition Intgelligence Kecerdasan Intuitif 12. Moral Intelligence Kecerdasan Moral 13. Spiritual Intelligence Kecerdasan spiritual 14. Succesful Intelligence Kecerdasan Kesuksesan 15. Dll[29]. Dari jenis-jenis kecerdasan tersebut penulis akan mencoba mengungkap kecerdasan pada ayat-ayat, yang di dalamnya terdapat kata-kata yang memiliki makna kecerdasan atau dekat dengan makna kecerdasan. Ada 9 jenis kecerdasan, yaitu Kecerdasan Pribadi, Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Sosial, Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Visual, Kecerdasan Tubuh, Kecerdasan Kesuksesan, Kecerdasan Kesejarahan, Kecerdasan Moral, Kecerdasan Bahasa, dan kecerdasan finansial Kecerdasn Pribadi. Kecerdasan pribadi personal Intelligence menurut Horward Gordner sebagaimana dukutip oleh Agus Efendi terbagi menjadi dua, yaitu kecerdasan intrapersonal intrapersonal Intelligence dan kecerdasan Interpersonal Iterpersonal Intelligence. Kecerdasan Intrapersonal adalah kecerdasan yang bergerak ke dalam; akses kepada kehidupan perasaan diri sendiri; kecerdasan membedakan perasaan-perasaan secara instan[30]. Kecerdasan pribadi ini banyak dijelaskan di dalam al-Quran, seperti pada Surat Adz-Dzariyst ayat 21 beikut ูˆูŽูููŠ ุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูุจู’ุตูุฑููˆู†ูŽ โ€œDan juga pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikanโ€ adz-Dzariyat/52 21 Dengan bentuk pertanyaan, Allah swt. memotivasi manusia agar selalu berusaha mengetahui, mengenali dirinya. Begitu pentingnya dan sentralnya pribadi. Al-Qurthubi menafsirkan ayat tersebut ; apakah mereka tidak melihat, dengan penglihatan tafakkur dan tadabbur sehingga mereka dapat mengambil petunjuk bahwa pada diri merka terjadi peristiwa dan perubahan. Apabila manusia tidak berpikir dengan peringatan ini bahwa Allah telah memberikan akal pada dirinya, yang dengannya dapat mengatur dan mengerahkan segala sesuatu. Berpikir awal mula kejadiannya, diciptakan dari sperma kemudian berubah menjadi segumpal darah, kemudian berubah menjadi segumpal daging. Perubahan dari muda menjadi tua. Perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya itu tidaklah terjadi dengan sendirinya, tetapi itu semua atas kehendak Allah swt. Panca Indra manusia adalah lebih mulia dibanding bintang yang menerangi. Pendengaran dan penglihatan laksana matahari dan rembulan di dalam menemukan hal-hal yang perlu diketahui. Semua anggota badannya itu akan hancur. Otot-ototnya laksana sungai-sungai, sedang jantungnya laksana mata air yang akan mengalir ke sungai-sungai itu. Kandung kemih laksana lautan, tulang laksana gunung. Anggota badan laksana pepohonan, maka sebagaimana setiap pohon memiliki daun dan buah demikian pula setiap anggota badan memiliki perbuatan dan pengaruh. Rambut di badan laksana pohon-pohon kecil dan rumput Segala apa yang ada di jagad raya ini ada padanannya di alam kecil yaitu badan manusia[31]. Kecerdasan pribadi ini mencakup kemampuan manusia dalam mencermati penciptaan dirinya, Allah swt. menciptakan bentuk tubuh manusia yang sangat sempurna, seperti yang telah diungkapkan di atas, juga kemampuan mencermati dan menganalisa prilaku dirinya. Ayat berikut juga memberikan dorongan kepada manusia agar ia memiliki Kecerdasan Pribadi, Yaitu pada Surat al-Baqarah 44 dan 242, ุฃูŽุชูŽุฃู’ู…ูุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุจูุงู„ู’ุจูุฑู‘ู ูˆูŽุชูŽู†ู’ุณูŽูˆู’ู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุชู’ู„ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œMengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan diri kewajibanmu sendiri padahal kamu membaca Al-Kitab Taurat ? Maka tidakkah kamu berpikirโ€ Al-Baqarah/2 44 Allah swt. mengingatkan kepada manusia agar memiliki kemampuan introspeksi terhadap dirinya sendri, Juga memahami hak dan kewajibannya. Surat Yasin 62 memberikan peringatan agar manusia memilki kemampuan membentengi diri dari godaan setan. Dan Surat al-mulk 10 mengingatkan kepada manusia, sebelum menyesal, untuk menggunakan potensi akal dan pendengarannya dalam meningkatkan keimanannya. Kecerdasan Emosional. Kecerdasan Emosional adalah kemampuan mengenali perasaan diri kita sendiri dan perasaan orang lain, kamampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Emosi merupakan salah satu dari trilogi mental yang terdiri dari ; kognisi, emosi, dan motivasi. Menurut Paul Ekman, sebagaimana dikutip oleh Agus Efendi, ada enam 6 jenis emosi dasar, yaitu ; anger marah, fear takut, surprise kejuan, disgust Jengkel, happiness kebahagiaan, dan sadness kesedihan. Agus Efendi juga mengutip pendapat Daniel Goleman yang mempunyai daftar emosi yang relatif lengkap. Daftar emosi tersebut berikut cabang-cangnya adalah sebagai berikut 1. Amarah Anger ; beringas fury, mengamuk autrage, benci resentment, marah besar wrath, jengkel exasperation, kesal hati indigination, terganggu vexation, rasa pahit acrimony, berang animosity, tersinggung annoyance, bermusuhan irritability, kekerasan hostility, kebencian patologis violence. 2. Kesedihan Sadness pedih grief, sedih sorrow, muram cheerlessness, suram gloom, melankolis melancholy, mengasihani diri self-pity, kesepian leneliness, ditolak dejection, putus asa despair, depresi berat depression. 3. Rasa takut Fear cemas anxiety, takut apprehension, gugup nervouness, khawatir concern, waswas consternation, perasaan takut sekali misgiving, khawatir wariness, waspada qualm, sedih edgness, tidak tenang dread, ngeri frigth, takut sekali terror, sampai dengan paling parah, fobia phobia, dan panik panic. 4. Kenikmatan Enjoyment bahagia happiness, gembira joy, ringan relief, puas contentment, riang blis, senang delight, terhibur amusement, bangga pride, kenikmatan indrawi sensual pleasure, takjub thrill, rasa terpesona rapture, rasa puas gratification, rasa terpenuhi satisfaction, kegiranga luar biasa euphoria, senang whismy, senang sekali ecstasy, hingga yang ekstrim, mania mania. 5. Cinta Love penerimaan acceptance, persahabatan friendliness, kepercayaan trust, kebaikan hati kindness, rasa dekat affinity, bakti devotion, hormat adoration, kasmaran infatuation, kasih agape. 6. Terkejut Surprise terkejut shock, terkesiap astonishment, takjub amazement, terpana wonder. 7. Jengkel Disgust hina contempt, jijik disdain, muak scorn, benci abborrence, tidak suka aversion , mau muntah distaste, tidak enak perasaan revulsion. 8. Malu Shame rasa salah guilt, malu hati ambarrassment, kesal hati chogrin, sesal remorse, hina humiliation, aib regret, hati hancur lebur mortification, perasaan sedih atau dosa yang mendalamn cotrition[32]. Al-Quran menjelaskan berbagai macam emosi tersebut, tetapi yang ingin penulis ungkap dalam tulisan ini adalah adalah Kecerdasan Emosional EQ yang diungkap oleh Al-Quran dalam ayat-ayat yang diberi stressing dengan menggunakan kata yang memiliki makna kecerdasan seperti tafakkur dan sejenisnya, seperti pada Surat al-Rum 21 beikut ; ูˆูŽู…ูู†ู’ ุขูŽูŠูŽุงุชูู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู‹ุง ู„ูุชูŽุณู’ูƒูู†ููˆุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ู…ูŽูˆูŽุฏู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ุฅูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽุขูŽูŠูŽุงุชู ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽุชูŽููŽูƒู‘ูŽุฑููˆู†ูŽ โ€œdan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar tgerdapat tanda-tanda bagi kaum Yang berfikirโ€ Al-Rum/30 21. Pada ayat tersebut, Allah swt. mengingatkan kepada orang-orang yang berfikir, bahwa mereka telah diberikan nikmat cinta dan kasih sayang, yang mesti dikelola dengan sebaik-baiknya. Apabila mereka menggunakan kecerdasan emosionalnya dengan mengendalikan emosinya, mengelola cintanya dengan sebaik-baiknya, maka akan melahirkan kedamaian dan ketentraman. Allah swt. juga menjelaskan bentuk emosi yang lainnya dalam Surat al-Baqarah 76 berikut ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ู‚ูŽุงู„ููˆุง ุขูŽู…ูŽู†ู‘ูŽุง ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฎูŽู„ูŽุง ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ู‚ูŽุงู„ููˆุง ุฃูŽุชูุญูŽุฏู‘ูุซููˆู†ูŽู‡ูู…ู’ ุจูู…ูŽุง ููŽุชูŽุญูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู„ููŠูุญูŽุงุฌู‘ููˆูƒูู…ู’ ุจูู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฑูŽุจู‘ููƒูู…ู’ ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œDan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata โ€œKamipun telah berimanโ€; tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata โ€œApakah kamu menceritakan kepada mereka orang-orang muโ€™min apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan tuhanmu; tidakkah kamu mengertiโ€ Al-Baqarah/2 76 Ayat tersebut sama dengan firman Allah swt. Ali Imran 118 diakhiri dengan kata โ€œafala taโ€™qilunโ€ dan โ€œin kuntum taโ€™qilunโ€ membrikan dorongan agar memiliki kecerdasan emosional, artinya mengendalikan dan mengelola emosi ketika berhadapan dengan orang-orang munafik. Orang munafik adalah orang yang sangat berbahaya, lebih berbahaya jika dibandingkan dengan orang kafir, sebagaimana diungkapkan keburukan dan kejahatannya itu di awal Surat al-Baqarah ayat 8 โ€“ 20. Rasulullah saw. Bersabda ุขูŠุฉ ุงู„ู…ู†ุงูู‚ ุซู„ุงุซ ุฅุฐุง ุญุฏุซ ูƒุฐุจ ูˆุฅุฐุง ูˆุนุฏ ุฃุฎู„ู ูˆุฅุฐุง ุงุคุชู…ู† ุฎุงู†[33] โ€œTanda orang munafiq ada tiga perkara apabila bicara dia bohong, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila dipercaya ia mengkhiyanatiโ€ Bukhari. Hadits ini mengingatkan kepada kita, agar berhati-hati dalam bersikap menghadapi orang munafik Ayat berikut menjelaskan bentuk Kecerdasan Emosional yang lain ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ู ุฃูŽุดู’ู‡ูุฑูŒ ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ูŽุงุชูŒ ููŽู…ูŽู†ู’ ููŽุฑูŽุถูŽ ูููŠู‡ูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ูŽ ููŽู„ูŽุง ุฑูŽููŽุซูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ููุณููˆู‚ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุฌูุฏูŽุงู„ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ู ูˆูŽู…ูŽุง ุชูŽูู’ุนูŽู„ููˆุง ู…ูู†ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู’ู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุฒูŽูˆู‘ูŽุฏููˆุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุงู„ุฒู‘ูŽุงุฏู ุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆู†ู ูŠูŽุง ุฃููˆู„ููŠ ุงู„ู’ุฃูŽู„ู’ุจูŽุงุจู โ€œMusim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats. Berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakalโ€ Al-Baqarah 197 Ayat tersebut memanggil orang-orang yang berakal uli al-albab agar dapat mengendalikan emosi di saat melaksanakan ibadah haji, pada saat itu bertemu banyak orang dari berbagai bangsa dan negara, yang berbeda watak, kultur, dan tradisi. Pengendalian emosi dalam berbicara, tidak berbicara yang tidak baik dan tidak bermanfaat, juga tidak membalas perkataan orang lain yang tidak baik. Al-Quran Surat al-Thalaq 10, Allah memanggil uli al-albab orang-orang yang berakal al-Hasyr 2, Allah memanggil dengan uli al-abshar dan al-Anโ€™am 65 Allah swt. menggunakan kata โ€œyafqahunโ€ menjelaskan agar manusia memiliki kecerdasan dalam pengelolaan emosi, rasa takut, takut dari siksa Allah swt. Al-Quran memberikan rasa takut indzar kepada orang-orang yang durhaka, bahwa mereka mendapat murka dan siksaan Allah, dan juga memberikan kabar gembira atau rasa senang tabsyir kepada orang-orang yang bertakwa kepada Allah swt. Dengan adanya rasa takut dan gembira dalam diri menusia maka ada keseimbangan emosional dalam diri manusia. Kecerdasan Spiritual. Kecedasan Spiritual Spiritual Quotion adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandinkan dengan yang lain. Kecerdasan yang menfasilitasi suatu dialog antara akal dan emosi, antara pikiran dan tubuh, menyediakan titik tumpu bagi pertumbuhan dan perubahan, menyediakan pusat pemberi makna yang aktif dan menyatu bagi diri[34]. SQ adalah kecerdasan yang berada di bagian diri yang dalam, berhubungan dengan kearifan di luar ego atau pikiran sadar. SQ adalah kecerdasan yang dengannya kita tidak hanya mengakui nilai-nilai yang ada, tetapi juga secara kreatif menemukan nilai-nilai baru. SQ adalah pemahaman kita, yang mendalam dan intuitif akan makna dan nilai. SQ adalah hati nurani kita, yang mampu membuat kita menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama. โ€œapabila anda memilki Kecerdasan Spiritual, anda menjadi lebih sadar tentang gambaran besarโ€™ atau gambaan menyeluruhโ€™ tentang diri sendiri, jagad raya, dan kedudukan serta panggilan terhadap anda di dalamnya. Begitu tulis Tony Buzan yang dikutip oleh Agus Efendi[35]. Kecerdeasan Spiritual, menurut psikolog University of Californa, Davis Robert Emmons, sebagaimana dikutip oleh Agus Efendi, memilki komponen-komponen kecerdasan, yaitu 1. Kemampuan mentransendensi, Orang-orang yang sangat spiritual menyerap sebuah realitas yang melampaui materi dan fisik. 2. Kemampuan untuk menyucikan pengalaman sehari-hari. Orang yang cerdas secara spiritual memiliki kemampuan untuk memberi makna sakral atau ilahi pada pelbgai aktivitas, peristiwa, dan hubungan sehari-hari. 3. Kemampuan untuk mengalami kondisi-kondisi kesadaran puncak. Orang-orang yang cerdas secara spiritual mengalami ekstase spiritual. Mereka sangat perseptif terhadap pengalaman mistis. 4. Kemampuan untuk menggunakan potensi-potensi spiritual untuk memecahkan pelbagai masalah. Transformasi spiritual seringkali mengarahkan orang-orang untuk memerioritaskan ulang pelbagai tujuan. 5. Kemampuan untuk terlihat dalam pelbagai kebajikan. Orang-orang yang cerdas spiritual memiliki kemampuan lebih untuk menunjukkan pengampunan, mengungkapkan ras terima kasih, merasakan kerendahan hati, dan menunjukkan rasa kasih[36]. Ayat berikut menjelaskan kecerdasan Spiritual, Surat Ali Imran 190-191 ุฅูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุฎูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽุงุฎู’ุชูู„ูŽุงูู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ู„ูŽุขูŽูŠูŽุงุชู ู„ูุฃููˆู„ููŠ ุงู„ู’ุฃูŽู„ู’ุจูŽุงุจู 190 ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู‚ููŠูŽุงู…ู‹ุง ูˆูŽู‚ูุนููˆุฏู‹ุง ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูู†ููˆุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุชูŽููŽูƒู‘ูŽุฑููˆู†ูŽ ูููŠ ุฎูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ุจูŽุงุทูู„ู‹ุง ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽูƒูŽ ููŽู‚ูู†ูŽุง ุนูŽุฐูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู 191 โ€œ Juga ayat berikut, Surat Al-Baqarah 164 ุฅูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุฎูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽุงุฎู’ุชูู„ูŽุงูู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ูˆูŽุงู„ู’ููู„ู’ูƒู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุชูŽุฌู’ุฑููŠ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑู ุจูู…ูŽุง ูŠูŽู†ู’ููŽุนู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุงุกู ููŽุฃูŽุญู’ูŠูŽุง ุจูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูŽูˆู’ุชูู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽุซู‘ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุฏูŽุงุจู‘ูŽุฉู ูˆูŽุชูŽุตู’ุฑููŠูู ุงู„ุฑู‘ููŠูŽุงุญู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽุญูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูุณูŽุฎู‘ูŽุฑู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ู„ูŽุขูŽูŠูŽุงุชู ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œSesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati kering-nyadan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkanโ€ al-Baqarah 164. Juga pada ayat berikut, Surat Al-Maidah 58 ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู†ูŽุงุฏูŽูŠู’ุชูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ุงุชู‘ูŽุฎูŽุฐููˆู‡ูŽุง ู‡ูุฒููˆู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุนูุจู‹ุง ุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œDan apabila menyeru mereka untuk mengerjakan shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akalโ€ Al-Maidah/5 58 Pada tiga ayat tersebut di atas dan juga banyak ayat-ayat lain, seperti Surat al-Syuโ€™ara/26 28, al-Raโ€™d/13 4 dn 19, al-Nahl/16 12 dan 67 , al-Rum/30 24, al-Jatsiyah45 5 , al-Ankabut/29 63, Allah swt. mengingatkan kepada manusia agar berfikir secara cerdas dengan firmannya โ€œuli al-albabโ€œorang yang memiliki akal , โ€œqaum yaโ€™qilunโ€ kaum yang memikirkan, agar segala apa yang ada di jagad raya ini, sperti langit, bumi, pergantian malam dan siang, aneka ragam pepohonan dan hewan flora dan fauna, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi, seperti banjir, gempa bumi dan sebagainya hendaknya dapat meningkatkaan Kecerdasan Spiritual membaca tanda-tanda kekuasaan dan keagungan Allah swt. Ayat berikut, Surat Yunus 16 juga bicara tentang kecerdasan spiritual ู‚ูู„ู’ ู„ูŽูˆู’ ุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽู„ูŽูˆู’ุชูู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุฑูŽุงูƒูู…ู’ ุจูู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ู„ูŽุจูุซู’ุชู ูููŠูƒูู…ู’ ุนูู…ูุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูู‡ู ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ Kecerdasan spiritual mengimani al-Quran, bahwa kehidupan nabi 40 tahun sebelum turun wahyu yang mereka saksikan menjadi saksi kebenaran al-Quran dari Allah, bukan dari kamu tidak menggunakan akalmu untuk merenung dan berfikri agar kamu mengetahui bahwa sesungguhnya al Qurโ€™an yang mengandung muโ€™jizat ini adalah dari Allah. Oran-orang kafir menyaksikan kehidupan Nabi Muhammad dari kecil sampai masa diturnkannya al-Quran , mereka mengetahui prilaku Muhammad, yang tidak pernah menelaah kitab, tidak pernah berguru, kemudian setelah umur 40 tahun turun al-Qurโ€™an yang mengandung muโ€™jizat, mengandung ilmu-ilmu dasar , dasar-dasar ilmu hukum , ilmu akhlak, cerita-cerita masa lalu, cendikiawan dan ahli bahasa tidak mampu menandinginya, maka setiap orang yang memiliki akal yang sehat pasti mengtahui bahwa kitab al-Quran seperti itu pasti wahyu dari Allah[37]. Kecerdasan Visual Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk memberikan gambar-gambar dan imagi-imagi, serta kemampuan dalam mentransformasikan dunia visual-spasial. Keterampilan menghasilkan imagi mental dan menciptakan representasi grafis, berfikir tiga dimensi. Pusat kecerdasan spasial adalah kemampuan mempersepsi dunia visual dengan akurat, mentransformasi dan memodifikasi pengalaman visual seseorang, bahkan ketika tidak ada rangsangan fisikal yang relevan. Howard Gordner menyimpulkan Kecerdasan Visual, sebagaimana dikutip oleh Agus Efendi, sebagai berikut โ€œBahwa pandangan kecerdasan spasial ini, kita telah menemukan bentuk kedua dari kecerdasan yang terlibat dengan objek. Berbeda dengan pengetahuan logis-matematis yang mencakup jalan perkembangannya dengan meningkatkan abstraksi, kecerdasan spasial tetap terkait-terikat pada dunia nyata secara fundamental, terkait dengan dunia objek, dan lokasinya berada di dunia [38]. Ayat yang mengungkap Kecerdasan Visual ini antara lain, Surat Al-Raโ€™d ayat 3, dan Surat ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู…ูŽุฏู‘ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุฑูŽูˆูŽุงุณููŠูŽ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ู‡ูŽุงุฑู‹ุง ูˆูŽู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุงู„ุซู‘ูŽู…ูŽุฑูŽุงุชู ุฌูŽุนูŽู„ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุฒูŽูˆู’ุฌูŽูŠู’ู†ู ุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูŠูุบู’ุดููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽุขูŽูŠูŽุงุชู ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽุชูŽููŽูƒู‘ูŽุฑููˆู†ูŽ โ€œDan Dia lah Yang menjadikan bumi terbentang luas, dan menjadikan padanya gunung-ganang terdiri kukuh serta sungai-sungai yang mengalir. dan dari tiap-tiap jenis buah-buahan, ia jadikan padanya pasangan dua-dua. ia juga melindungi siang Dengan malam silih berganti. Sesungguhnya semuanya itu mengandungi tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum Yang mahu berfikir. 3 Juga ayat berikut, Surat Qaf 7 dan 8 ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ู…ูŽุฏูŽุฏู’ู†ูŽุงู‡ูŽุง ูˆูŽุฃูŽู„ู’ู‚ูŽูŠู’ู†ูŽุง ูููŠู‡ูŽุง ุฑูŽูˆูŽุงุณููŠูŽ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุจูŽุชู’ู†ูŽุง ูููŠู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุฒูŽูˆู’ุฌู ุจูŽู‡ููŠุฌู 7 ุชูŽุจู’ุตูุฑูŽุฉู‹ ูˆูŽุฐููƒู’ุฑูŽู‰ ู„ููƒูู„ู‘ู ุนูŽุจู’ุฏู ู…ูู†ููŠุจู 8 โ€œDan juga keadaan bumi ini, bagaimana Kami bentangkan Dia sebagai hamparan, dan Kami letakkan padanya gunung-ganang Yang terdiri kukuh, serta Kami tumbuhkan padanya pelbagai jenis tanaman Yang indah subur? Kami adakan semuanya itu untuk menjadi perhatian dan peringatan, yang menunjukkan jalan kebenaran, kepada tiap-tiap seorang hamba Allah Yang mahu kembali kepadanya dengan taat dan berbakti. Qaf /50 7-8 Dua ayat tersebut memerintahkan kapada manusia agar melihat dan merenungkan keindahan jagad raya ciptaan Allah. Kecerdasan Tubuh. Agus Efendi mengutip pendapat, Tony Buzan bahwa kecerdasan tubuh adalah kemampuan memahami, mencintai dan memelihara tubuh, dan membuatnya berfungsi seefisien mungkin untuk anda. Dengan kata lain, Kecerdasan Tubuh adalah Kecerdasan Atletik dalam mengontrol tubuh seseorang dengan sangat cermat. Oleh karena itu, ditegaskan oleh Buzan bahwa jika kita memiliki kecerdasan Fisik yang tinggi maka kita akan memahami hubungan antara otak dan tubuh, men sana in corpore sano, pikiran yang sehat terdapat dalam badan yang sehat, Sebaliknya, badan yang sehat berada dalam pikiran yang sehat Agus Efendi 2005 152. Al-Quran memberikan petunjuk kepada manusia, agar memilki kecerdasan memeliharaha badannya, sehingga terhindar dari hal-hal yang membahayakan badannya, seperti al-Quran Surat al-Baqarah ayat 219 berikut ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ููˆู†ูŽูƒูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุฑู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูŠู’ุณูุฑู ู‚ูู„ู’ ูููŠู‡ูู…ูŽุง ุฅูุซู’ู…ูŒ ูƒูŽุจููŠุฑูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ูŽุงููุนู ู„ูู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽุฅูุซู’ู…ูู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ู…ูู†ู’ ู†ูŽูู’ุนูู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ููˆู†ูŽูƒูŽ ู…ูŽุงุฐูŽุง ูŠูู†ู’ููู‚ููˆู†ูŽ ู‚ูู„ู ุงู„ู’ุนูŽูู’ูˆูŽ ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ูŠูุจูŽูŠู‘ูู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ุขูŽูŠูŽุงุชู ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุชูŽููŽูƒู‘ูŽุฑููˆู†ูŽ โ€œMereka bertanya tentang khamar dan judi. Katakanlah โ€œPada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnyaโ€. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan ?. Katakanlah โ€œYang lebih dari keperluanโ€. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikirโ€ Al-Baqarah/2 219. Juga ayat berikut, Surat Yasin 68 ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูุนูŽู…ู‘ูุฑู’ู‡ู ู†ูู†ูŽูƒู‘ูุณู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ุฎูŽู„ู’ู‚ู ุฃูŽููŽู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œDan barangsiapa yang kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadiannya. Maka apakah mereka tidak memikirkanโ€ Yasin/36 68 Kecerdasan Kesuksesan. Mengutip pendapat Vanwyck Agus Efendi, mengemukakan; Sukses adalah suatu pilihan, perkembangan, prestasi, bersifat personal, dan etik. Dengan kata lain, sukses adalah penyelesaian sesuatu dan pencapaian tujuan tertentu yang dipilih[39]. Dengan demikian, sebelum sukses, setiap orang harus menentukan pilihannya atau tujuannya terlebih dahulu. โ€œApa tujuan Andaโ€ ? . Untuk menjadi cerdas sukses seseorang harus berpikir dengan tiga cara analitis, kreatif, dan praktis. Ketiga aspek Kecerdasan Kesuksesan tersebut saling berhubungan. Kecerdasan analitis diperlukan untuk memecahkan masalah dan menilai gagasan. Kecerdasan Kreatif diperlukan untuk menformulasikan masalah dan gagasan yang baik di tempat yang pertama. Sedangkan kecerdasan praktis digunakan untuk menggunakan gagasan dan analisis-analisisnya dengan cara yang efektif dalam kehidupan sehari-hari. Kecerdasan Kesuksesan itu paling efektif ketika ia menyeimbangkan ketiga aspek analitis, kreatif dan praktis. Dalam bukunya adversity Quotient, John Paul Stolz menyebutkan, sebagaimana dikutip oleh Agus Efendi, bahwa kinerja, bakat, kemauan, karakter, kesehatan, kecerdasan, faktor genetis, pendidikan, dan keyakinan adalah kunci-kunci kesuksesasan hidup seseorang [40]. Ayat berikut salah satu contoh Kecerdasan Kesuksesan, al-Maidah /5 100 ู‚ูู„ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽูˆููŠ ุงู„ู’ุฎูŽุจููŠุซู ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุฃูŽุนู’ุฌูŽุจูŽูƒูŽ ูƒูŽุซู’ุฑูŽุฉู ุงู„ู’ุฎูŽุจููŠุซู ููŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูŽุง ุฃููˆู„ููŠ ุงู„ู’ุฃูŽู„ู’ุจูŽุงุจู ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ โ€œKatakanlah โ€œTidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntunganโ€ al-Maidah/5 100. Ayat tersebut di atas memberikan motivasi kepada orang-orang yang berakal agar menggunakan kemampuan kecerdasannya untuk membedakan yang baik dan yang buruk, sehingga akan sukses dan beruntung dalam hidupnya. Kecerdasan Moral. Kecerdasan Moral berarti Kemampuan seseorang untuk melalukan hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang lain. Ayat-ayat al-Quran yang di dalamnya menyinggung orang-orang yang memiliki akal kecerdasan yang terkait dengan moral seperti Surat al-Hujurat Ayat 4 ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูู†ูŽุงุฏููˆู†ูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ ูˆูŽุฑูŽุงุกู ุงู„ู’ุญูุฌูุฑูŽุงุชู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูู‡ูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œSesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar mu kebanyakan mereka tidak mengerti โ€œ al-Hujurat /49 4 Juga dalam ayat berikut, Surat Al-Qalam 5 ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู„ูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูู„ูู‚ู ุนูŽุธููŠู…ู 4 ููŽุณูŽุชูุจู’ุตูุฑู ูˆูŽูŠูุจู’ุตูุฑููˆู†ูŽ 5 โ€œDan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat, dan mereka orang-orang kafirpun akan melihatโ€ 4-5 Kecerdasan Bahasa. Kecerdasan bahasa berarti kemampuan menggunakan kata-kata secara terampil dan mengekspresikan konsep-konsep secara fasih fluently. Menurut Howard Gordner, sebagaimana dikutip oleh Agus efendi, kecerdasan linguistik antara lain ditunjukkan oleh sensitivitas terhadap fonologi, penguasaan sintaksis, pemahaman semantik dan pragmatik [41]. Sangat banyak ayat-ayat yang memotivasi agar manusia memiliki kecerdsan bahasa, terutama bahasa al-Quran. Di antara kata yang banyak digunakan adalah kata tadabbur yang berarti merenungkan dan memahami, seperti pada Surat Al-Nisaโ€™ 82 ุฃูŽููŽู„ูŽุง ูŠูŽุชูŽุฏูŽุจู‘ูŽุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขูŽู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูู†ู’ุฏู ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูˆูŽุฌูŽุฏููˆุง ูููŠู‡ู ุงุฎู’ุชูู„ูŽุงูู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง โ€œMaka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnyaโ€ Al-Nisaโ€™ 82 Juga pada Surat Al-Muโ€™minun 68 Shad 29, dan Muhammad 24. Kemudian Al-Quran juga menggunakan kata yaโ€™qilun dan taโ€™qilun dalam memotivasi Kecerdasan Bahasa, seperti pada ayat-ayat beikut Al-Anโ€™am 151, al-Rum 28, Al-Baqarah 171, al-Anfal 22, Yunus 42, Dn Al-Zukhruf 3 . Ada juga yang menggunakan kata yatafakkarun serti pada Surat Al-Anโ€™am 50, Al-Nahl 44, Al-Hasyr 21, dan Yunus 24. Ada pula yang menggunakan kata ulu al-albab seperti pada Surat Ali Imran 7, Al-Zumar 18, dan Shad 29. kecerdasan finansial Kecerdasan Finansial adalah kecerdasan atau kemampuan seseorang dalam mengelola keuangannya, dari mana harta itu didapatkan, halal atau haram, dan bagaimana cara mengelolanya, tidak bakhil dan tidak mubazir. Tidak mudah tergiur dan tertipu dengan gemerlap kehidupan dunia yang bersifat meterialistik, sehingga mengaburkan pandangan rasionalitasnya. Ayat-ayat yang memotivasi kecerdasan finansial sangatlah banyak, akan tetapi ayat yang di dalamnya terdapat kata yang memilki makna cerdas atau sejenisnya ada pada ayat berikut, kata afala taโ€™qilun terdapat pada 3 ayat berikut ini; Surat al-Aโ€™raf 169 ููŽุฎูŽู„ูŽููŽ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‡ูู…ู’ ุฎูŽู„ู’ููŒ ูˆูŽุฑูุซููˆุง ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ูŠูŽุฃู’ุฎูุฐููˆู†ูŽ ุนูŽุฑูŽุถูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุณูŽูŠูุบู’ููŽุฑู ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ูŠูŽุฃู’ุชูู‡ูู…ู’ ุนูŽุฑูŽุถูŒ ู…ูุซู’ู„ูู‡ู ูŠูŽุฃู’ุฎูุฐููˆู‡ู ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุคู’ุฎูŽุฐู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ู…ููŠุซูŽุงู‚ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ูŽ ูˆูŽุฏูŽุฑูŽุณููˆุง ู…ูŽุง ูููŠู‡ู ูˆูŽุงู„ุฏู‘ูŽุงุฑู ุงู„ู’ุขูŽุฎูุฑูŽุฉู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œMaka datangkanlah sesudah mereka generasi yang jahat yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata โ€œkami akan diberi ampunโ€. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu pula, niscaya mereka akan mengambilnya juga. Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya. Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengertiโ€ Al-Aโ€™raf/7 169 Juga Surat al-Qashash 60 ูˆูŽู…ูŽุง ุฃููˆุชููŠุชูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกู ููŽู…ูŽุชูŽุงุนู ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุฒููŠู†ูŽุชูู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽุจู’ู‚ูŽู‰ ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œDan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah keniโ€™matan hidup duniawi dan pehiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya โ€œ al-Qashash/28 60 Juga ayat beriktu, Surat Hud 51 ูŠูŽุง ู‚ูŽูˆู’ู…ู ู„ูŽุง ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑู‹ุง ุฅูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ุฑููŠูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ููŽุทูŽุฑูŽู†ููŠ ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œHai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini, Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkannyaโ€ Hud/11 51 Kecerdasan melihat seorang nabi yang mengajak kepada kebaikan tanpa mengharap balasan apapun dari mereka adalah seorang pememberi nasehat yang dapat dipercaya. Sumber Kecerdasan Kecerdasan berarti Suatu kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir tidaklah muncul begitu saja dalam diri manusia, namun perlu adanya suatu proses, sehingga membentuk pikiran atau kecerdasan pada diri seseorang. Ibrahim El-Fiky dalam bukunya Quwwat Tafkir, yang diterjemahkan oleh Khalifurrahman Fath dann M. Taufik Damas, mengatakan bahwa Berpikir itu sederhana dan hanya butuh waktu sekejap, namun ia memiliki proses yang kuat dari tujuh sumber yang berbeda. Tujuh Sumber yang memberi kekuatan luar biasa pada proses berpikir dan menjadi refrensi bagi akal yang digunakan setiap orang, yaitu 1. Orang Tua. 2. Keluarga. 3. Masyarakat. 4. Sekolah. 5. Teman. 6. Media Massa. 7. Diri Sendiri [42]. Al-Quran memberikan isyarat bahwa ada 3 sumber Kecerdasa, yaitu; 1. Keimanan atau keyakinan, apa yang diyakininya akan menjadi inspirasi dan motivasi seseorang untuk membentuk kecerdasan atau kemampuan bepikir. 2. Ilmu, Dengan membaca ayat-ayat al-Qurโ€™an dan ayat-ayat kauniyah, yang terhampar di jagad raya, maka manusia akan memilki pikiran dan kecerdasan. 3. Sejarah, yaitu pengalaman pribadinya pada masa lalu, juga peristiwa- peristiwa dan sejarah umat terdahulu. Oleh karena itu, Al-Qurโ€™an sangat banyak mengingatkan kepada manusia agar memilki kemampuan mengambil pelajaran sejarah umat terdahulu, sehingga sepertiga isi al-Quran adalah berupa al-Qashash cerita-cerita, juga mendorong kamampuan manusia melihat masa lalunya sendiri untuk dijadikan pelajaran buat masa depan, sebagaimana pada Surat al-Hasyr 18 ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽู„ู’ุชูŽู†ู’ุธูุฑู’ ู†ูŽูู’ุณูŒ ู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽุชู’ ู„ูุบูŽุฏู ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ โ€œHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnyauntuk hari esok akhirat. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakanโ€ Al-Hasyr/59 18. Juga pada ayat berikut, Surat Al-Hajj 46 ุฃูŽููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณููŠุฑููˆุง ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ููŽุชูŽูƒููˆู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ู‚ูู„ููˆุจูŒ ูŠูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ ุจูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุขูŽุฐูŽุงู†ูŒ ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนููˆู†ูŽ ุจูู‡ูŽุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑู ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุชูŽุนู’ู…ูŽู‰ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูุฏููˆุฑู โ€œMaka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar ? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dadaโ€ Al-Hajj/22 46 Juga pada ayat berikut, Surat Yusuf/12 46 ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฑูุฌูŽุงู„ู‹ุง ู†ููˆุญููŠ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ู‚ูุฑูŽู‰ ุฃูŽููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณููŠุฑููˆุง ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ููŽูŠูŽู†ู’ุธูุฑููˆุง ูƒูŽูŠู’ููŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽุงู‚ูุจูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุฏูŽุงุฑู ุงู„ู’ุขูŽุฎูุฑูŽุฉู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุงุชู‘ูŽู‚ูŽูˆู’ุง ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œKami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul, melainkan orang laki-laki yang kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan rasul dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannyaโ€ Yusuf/12 109 Dari tiga ayat tersebut di atas, Al-Quran memberikan peringatan kepada manusia agar menggunakan kemampuan daya pikirnya dan kecerdasannya untuk memahami sejarah dan pengalaman masa lalunya. Dari ayat tersebut, Surat Al-Hajj 46, manusia juga didorong untuk mengasah kecerdasannya dan ketajaman mata hatinya, sehingga mata hatinya tidak buta. Karena kebutaan mata hati sangat berbahaya. Ayat-ayat lain yang memotivasi untuk kecerdasan kesejarahan adalah ; Surat al-Baqarah 170,al-Aโ€™raf 176, Yusuf 111, dan al-Ankabut 35. Penutup Al-Quran banyak memberikan motivasi kepada manusia agar memiliki kecerdasan, bukan kecerdasan intelektual semata, yang sifatnya logis-matematis, akan tetapi kecerdasan majmuk, yaโ€™ni kecerdasan mencakup berbagai aspek kehidupan. Kecerdasan yang dimaksudkan oleh Al-Quran adalah kecerdasan menggunakan kemampuan akalnya untuk kebaikan dirinya dan kebaikan orang lain. ENDNOTE [1] . Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, Bandung, Alfabeta, 2005, Cet. I, h. 58 [2] .Taufik Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ Menyingkap Rahasia Kecerdasan Berdasarkan Al-Quran dan Neurosains Mutakhir, Bandung, Mizan Pustaka, 2008, Cet. I, h. 18. [3] . Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan, h. 58. [4] . Agus Efendi, h. 4 [5] . Agus Efendi, h. 81 [6] . Agus Efendi, h. 83 [7] . lihat Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, Lisan al-Arab, Beirut, dar Shadir, 1882, Cet. I, Juz 13, h. 323. [8] .lihat Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, h. 287. [9] .lihat Abu Hilal al-โ€œAskari, Muโ€™jam al-Furuq al-Lughawiyah, al-Maktabah asy-Syamilah, Juz 1, h. 166. [10] .lihat Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, Lisan al-Arab, h. 40. [11] .lihat Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, h. 640. [12] .At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Beirut, Dar al-Arab al-Islami, 1998, Juz 4, h. 638. [13] .lihat Al-Mawardi, Adab ad-Dunya wa ad-Din, Beirut, Dar al-Fikr, 1995, h. 19 [14] . lihat Muhammad Ali Al-Shabuni, Shafwah al-Tafasir, Beirut, Dar al-Fikr, 1988, Juz I, h. 576. [15] . lihat Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, Lisan al-Arab, h. 343. [16] . Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, h. 160. [17] .lihat Muhammad Ibn Abu Bakar al-Razi, Mukhtar ash-Shahah,Beirut, Maktabah Lubnan Nasyirun, 1995, Juz I, h. 612. [18] . lihat Al-Jauhari, ash-Shihah fi al-Lughah, al-Maktabah asy-Syamilah, Juz 1, h. 44. [19] . lihat Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, Lisan al-Arab, Beirut, dar Shadir, 1882, Cet. I, Juz 4, h. 64. [20] .lihat Al-Jurjani, at-Taโ€™rifat, al-Maktabah asy-Syamilah, Juz I, h. 14 [21] .lihat Abu Hilal al-โ€œAskari, Muโ€™jam al-Furuq al-Lughawiyah, al-Maktabah asy-Syamilah, Juz 1, h. 102. [22] .lihat Abu Muhammad al-Husain Ibn Masโ€™ud al-Baghawi, Maโ€™alim at-Tanzil, Dar Thayyibah, 1997, Cet. IV, Juz 4, h. Sayyid Thanthawi, at-Tafsir al-Wasith, al-Maktabah asy-Syamilah, Juz 1, h. 2353. [23] . lihat Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, h. 522. [24] . lihat Al-Jurjani, at-Taโ€™rifat, h. 20. [25] .lihat Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abd. Al-Razzaq, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, Al-Makatabah asy-Syamilah, Juz. 1, h. 3549. [26] . lihat Abu Hilal al-Askari, Muโ€™jam al-Furuq al-Lughawiyah, h. 543. [27] . lihat Al-Jurjani, at-Taโ€™rifat, h. 76., [28] .Muhammad Ibn Yaโ€™qub al-Fairuzzabadi, al-Qamus al-Muhith, al-Maktabah asy-Syamilah, Juz 1, h. 508. [29] . Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, h. 58. [30] . Agus Efendi, h. 156. [31] .Muhammad Ibn Ahmad Ibn Abi Bakr al-Qurthubi, al-Jamiโ€™ li Ahkam al-Quran, al-Maktabah asy-Syamilah, Juz II, h. 202. [32] . Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, h. 177. [33] .Al-Bukhari, al-Jamiโ€™ ash-Shahih, Beirut , Dar Ibn Katsir, 1987, Cet. III, Juz 1, h. 21. [34] . Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, h. 216. [35] . Agus Efendi, h. 209. [36] . Agus Efendi, h. 244. [37] . Muhammad Ali Al-Shabuni, Shafwah al-Tafasir, h. 576. [38] . Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, h. 177. [39] . Agus Efendi, h. 248. [40] . Agus Efendi, h. 96. [41] . Agus Efendi, h. 141. [42] . Ibrahim Elfiky, Terapi Berpikir Positif, Terj. Khalifurrahman Fath dan M. Taufik Damas, Jakarta, Zaman, 2009, Cet. II. h. 7 ArticlePDF AvailableAbstractThe research study carried out was literature where the results of the research carried out contained several findings in the study, including; First, Humans were created by Allah SWT in a perfect form which makes it different from other creatures. Second, the human mind is a gift from Allah SWT, which is used to think, understand, be able to understand something, from within the human being himself, so that humans have the readiness to absorb everything. Third, religion is a matter of reason and its use must be in accordance with the provisions and limits that have been set and not result in absolute and absolute thinking that can harm humans themselves. Fourth, human intelligence is described through the ability of humans themselves to be able to restrain their lusts, those who do the most charity to remember death and the best in preparing provisions to face life after death. Fifth, in the context of human life today, the intelligence referred to includes intelligence IQ Intellegence Quotient, EQ Emotional Quotient, and SQ Spiritual Quotient and there are even other intelligences as part of one's potential that must always be honed and developed. Sixth, the function of reason which is accompanied by good intelligence in Islamic education, with the concepts of tadhakkur, tadabbur, tafakkur and has knowledge and faith, has a very important role in realizing quality Islamic education. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. MUSHAF JOURNAL Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis Vol. 1 No. 1 Desember 2021, page 103-118 103 AKAL DAN KECERDASAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURโ€™AN DAN HADITS Muhammad Isnaini Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Indonesia Corresponding author email muh240971isnaini Iskandar Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Email abusyla Abstract The research study carried out was literature where the results of the research carried out contained several findings in the study, including; First, Humans were created by Allah SWT in a perfect form which makes it different from other creatures. Second, the human mind is a gift from Allah SWT, which is used to think, understand, be able to understand something, from within the human being himself, so that humans have the readiness to absorb everything. Third, religion is a matter of reason and its use must be in accordance with the provisions and limits that have been set and not result in absolute and absolute thinking that can harm humans themselves. Fourth, human intelligence is described through the ability of humans themselves to be able to restrain their lusts, those who do the most charity to remember death and the best in preparing provisions to face life after death. Fifth, in the context of human life today, the intelligence referred to includes intelligence IQ Intellegence Quotient, EQ Emotional Quotient, and SQ Spiritual Quotient and there are even other intelligences as part of one's potential that must always be honed and developed. Sixth, the function of reason which is accompanied by good intelligence in Islamic education, with the concepts of tadhakkur, tadabbur, tafakkur and has knowledge and faith, has a very important role in realizing quality Islamic education. Keywords Intellect, Intelligence, Qur'an, Hadith. Abstrak Kajian penelitian yang dilakukan adalah literatur yang mana hasil dari penelitian yang dilakukan terdapat beberapa temuan dalam penelitian, diantarnaya; Pertama, Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk sempurna yang 104 menjadi pembeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Kedua, Akal manusia merupaka karunia dari Allah SWT, yang digunakan untuk berfikir, mengerti, dapat memahami sesuatu, dari dalam diri manusia itu sendiri, sehingga manusia memiliki kesiapan untuk menyerap segala sesuatunya. Ketiga, Agama adalah masalah akal dan penggunaannya haruslah sesuai dengan ketentuan dan batasan yang telah ditetapkan serta tidak mengakibatkan berfikir secara mutlak dan absolut yang dapat merugikan manusia itu sendiri. Keempat, Kecerdasan manusia digambarkan melalui kemampuan manusia itu sendiri yang dapat menahan hawa nafsunya, yang paling banyak beramal untuk mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Kelima, Dalam konteks kehidupan manusia saat ini, kecerdasan dimaksud diantaranya meliputi kecerdasan IQ Intellegence Quotient, EQ Emotional Quotient, dan SQ Spiritual Quotient serta bahkan ada kecerdasan lainnya sebagai bagian dari potensi seseorang yang harus selalu diasah dan dikembangkan. Keenam, Fungi akal yang barengi dengan kecerdasan yang baik dalam pendidikan Islam, dengan konsep tadhakkur, tadabbur, tafakkur serta memiliki ilmu pengetahuan dan keimanan, memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka mewujudkan pendidikan Islam yang berkualitas. Kata Kunci Akal, Kecerdasan, Al Qurโ€™an, Hadits. Pendah uluan Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang diciptakan dalam keadaan sebaik-baiknya bentuk. Secara tegas al-qurโ€™an menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk yang sempurna. Diciptakannya manusia dalam bentuk yang sempurna karena juga dilengkapi dengan akal dan kecerdasan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Dengan akal dan kecerdasan manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Dengan akal dan kecerdasan manusia dapat mendesain segala sesuatu sesuai dengan apa telah menjadi tuntunan Tuhan. Dengan adanya anugerah akal dan kecerdasan inilah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya. Islam adalah agama yang menghargai akal, dalam Islam agama dan akal buat pertama kalinya menjalin hubungan persaudaraan. Di dalam persaudaraan itu, akal menjadi tulang punggung agama yang terkuat dan wahyu sendinya yang terutama. Antara akal dan wahyu tidak bisa ada pertentangan. Mungkin agama membawa sesuatu yang di luar kemampuan manusia memahaminya, tetapi tidak mungkin membawa yang mustahil menurut akal Muhammad Abduh, 1993. Allah SWT memberikan nikmat akal kepada manusia sehingga mengangkat derajatnya kepada tingkat berketuhanan dan kesanggupan untuk mengetahui dan memahami tentang Rabbnya. Ini merupakan nikmat dan kemuliaan tertinggi yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Selanjutnya 105 Allah menambahkan fitrah bagi manusia yang sesuai dengan apa yang dibawa para rasul, seperti wahyu dan agama yang disyariatkan Allah bagi manusia Rabiโ€™ bin Hadi, 2002. Allah SWT memberikan akal kepada manusia yang dilengkapi juga dengan kecerdasan yang bertujuan untuk dapat menjawab semua permasalahan yang dihadapi manusia. Setiap manusia diberikan anugerah akal yang dilengkapi dengan kecerdasan oleh Allah SWT untuk mengelola kehidupan sesuai dengan apa yang telah menjadi tuntunan Tuhan. Sejak awal penciptaannya manusia merupakan makhluk yang mempunyai kelebihan dan kekurangan yang diberikan oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah fil ardhi dalam menata kehidupan. Rasulullah SAW dalam penjelasannya terkait dengan akal sangat menjunjung tinggi akal, sampai-sampai dikatakan bahwa seseorang dianggap tidak beragama manakala tidak memiliki akal di dalamnya. Demikian pula dengan kecerdasan, Rasulullah SAW juga memberikan penegasan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang bisa menahan hawa nafsunya, yang paling banyak beramal untuk mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Dalam konteks kehidupan manusia saat ini, kecerdasan dimaksud diantaranya meliputi kecerdasan IQ Intellegence Quotient, EQ Emotional Quotient, dan SQ Spiritual Quotient serta bahkan ada kecerdasan lainnya sebagai bagian dari potensi seseorang yang harus selalu diasah dan dikembangkan. Hasil dan Pembahasa n Pengertian akal dan kecerd asa n Akal berasal dari bahasa Arab dari kataaql ๎งž๎ง˜๎ง‹ yang berarti akal, fikiran. A. W. Munawwir, Kamus 1997. Dalam bahasa Indonesia, akal berarti alat berpikir, daya pikir untuk mengerti, pikiran, ingatan. W. J. S. Poerwadarminta, 2007. Akal juga berarti daya pikir untuk memahami sesuatu, dsb, jalan atau cara melakukansesuatu, daya upaya Tim Redaksi, 2005. Dalam Lisan al-Arab disebutkan bahwa al-aql berarti al-bijr yang berarti menahan dan mengekang hawa nafsu. Seterusnya diterangkan bahwa al-aql mengandung arti kebijaksanaan al-nuba, lawan dari lemah fikiran albumq. Al-aql juga mengandung arti qalbu al-qalb, yang berarti memahami A. W. Munawwir, 1997. Akal adalah daya pikir dalam diri manusia dan salah satu daya jiwa yang mengandung arti berfikir, memahami, dan mengerti Tim Penyusun, 2005 Kata aql sebagai mashdar kata benda dari aqala tidak didapat dalam Alquran, akan tetapi bentukan dari kataaqalatersebut dalam bentuk fiil mudhรขri` kata kerja sebanyak 49 kali dan tersebar dalam berbagai surah dalam al-Qur`an. Kata-kata tersebut misalnya; ta`qilศ—n al-Baqarah 44, ya`qilศ—n al-Furqan 44 dan Yรขsรฎn 68, na`qilu alMulk 10, ya`qiluha al-`Ankabศ—t 43, `aqaluhu al-Baqarah 2. Disamping kata `aqala, al-Qur`an juga menggunakan 106 kata-kata yang menunjukkan arti berfikir, seperti nazhara melihat secara abstrak/berfikir, tafakkara berarti berfikir, Faqiha memahami, tadabbara memahami dan tazdakkara mengingat Tim Penyusun, 2005. Menurut Imam al-Ghazali akal memiliki empat pengertian, seharusnya tidak diberikan satu definisi saja untuknya tetapi untuk setiap pengertian ada definisi masing-masing. Adapun pengertian-pengertian tersebut adalah, Pertama, akal adalah suatu sifat yang membedakan manusia dengan binatang, dan merupakan potensi yang dapat menerima dan memahami pengetahuan-pengetahuan yang berdasarkan pemikiran, dan akal mampu menghasilkan produk-produk pemikiran yang canggih. Mengutip pendapat al-Harits bin Asad Al-Muhasibi ketika membuat definisi tentang akal, bahwa โ€œAkal adalah suatu gharizah naluri asli manusia yang menyebabkan manusia memiliki potensi untuk menyerap berbagai pengetahuan yang berdasarkan pikiran. Akal ibarat cahaya yang dimasukkan ke dalam hati, sehingga manusia memiliki kesiapan untuk mencerap segala sesuatunya Imam al-Ghazali, 1996. Kedua, yang dimaksud dengan akal adalah pengetahuan-pengetahuan yang telah tersimpan dalam diri anak yang mumayyiz. Seperti tentang kemungkinan terjadinya segala sesuatu yang mungkin terjadi, dan kemustahilan terjadinya segala sesuatu yang mustahil. Misalnya, pengetahuan bahwa dua lebih banyak daripada satu. Atau bahwa seseorang tidak mungkin berada di dua tempat sekaligus dalam waktu yang bersamaan Imam al-Ghazali, 1996. Ketiga, menurut pengertian ini, yang disebut akal adalah pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman tentang berbagai peristiwa dalam perjalanan hidup ini. Orang yang pikirannya tajam karena telah diasahโ€™ oleh berbagai pengalaman hidup dan memiliki wawasan luas, biasanya disebut รขqil orang berakal. Sedangkan orang yang tidak memiliki sifat-sifat seperti itu, biasanya disebut bebal atau dungu atau tidak berakal. Dengan demikian, hal ini merupakan jenis lain dari pengetahuan-pengetahuan yang juga disebut akal. Keempat, bahwa apabila gharizah seperti itu telah menguat dalam diri manusia, sehingga ia mampu memperhitungkan akibat-akibat yang akan timbul dari segala sesuatunya, dan mampu menundukkan serta mengalahkan hawa nafsu yang mengajak kepada kesenangan yang segera, maka ketika itu ia disebut orang berakal Imam al-Ghazali, 1996. Manusia berdasarkan akalnya dapat dibagi kepada empat tingkatan, yaitu, pertama, manusia yang mampu memahami kekuasaan dan kemampuan Allah juga tentang janji dan ancamannya. Kedua, Manusia yang dapat memahami semua kebesaran dan kebenaran Tuhan, tetapi mereka menentangnya demi merenggut kenikmatan dunia. Ketiga, manusia yang mengingkari kebenaran dan tidak bersedia mendekatinya. Mereka menentang kebenaran tersebut, bahkan mengira berada di pihak yang benar padahal mereka berada di ujung kesesatan. Keempat, adalah manusia yang sanggup memahami kebesaran Tuhan sebagai Zat Yang Maha Tunggal dalam mengelola alam raya ini. Golongan ini meyakini 107 bahwa keberhasilan hidup hanya dapat dicapai dengan berpegang teguh pada keimanan terhadap-Nya Nash Hamid Abu Zaid, 2003. Dari beberapa penjelasan diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa akal merupakan pemikiran, mengerti, dapat memahami sesuatu, dalam diri manusia, sehingga manusia memiliki kesiapan untuk menyerap segala sesuatunya. Pengertian Kecerdasan Kecerdasan berasal dari kata cerdas yang berarti pintar dan cerdik, cepat tanggap dalam menghadapi masalah dan cepat mengerti jika mendengar keterangan. Kecerdasan adalah kesempurnaan perkembangan akal budi. Kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dalam hal ini adalah masalah yang menuntut kemampuan fikiran Daryanto, 2006. Macam-macam kecerdasan menurut para ahli psikologi di dunia menyimpulkan terkait dengan pemetaan kecerdasan quotient mapping seseorang, dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Ketiga kecerdasan ini merupakan kecerdasan personal yang melekat pada pribadi seseorang Rustam Hanafi. Akal dan Kecerdasan dalam Perspektif Al-quran dan Hadits Dalam Al-quran, kata aql akal tidak ditemukan dalam bentuk mashdarnya, yang ada hanyalah dalam bentuk kata kerja, masa kini dan masa lampau. Secara bahasa, `aql berarti tali pengikat, penghalang. Al-qurโ€™an sendiri menggunakannya bagi sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Dari konteks ayat-ayat yang menggunakan kata `aql dapat dipahami bahwa ia antara lain mencakup makna, pertama Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, M. Quraish Shihab, 2005 sebagaimana firman-Nya yang artinya Demikian itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang alim berpengetahuan. al-`Ankabut 43. Daya yang dimiliki manusia dalam hal ini berbeda-beda. Hal ini diisyaratakan al-qur`an antara lain dalam ayat-ayat yang berbicara tentang kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang dan lain-lain. Ada yang dinyatakan sebagai buktibukti keesaan Allah. Bagi orang-orang yang berakal, Q. S. al-Baqarah 164 dan ada juga kata Ulil al-Bรขb yang juga dengan makna sama, tetapi mengandung pengertian lebih tajam dari sekedar memiliki pengetahuan. Keanekaragaman akal dalam konteks menarik makna menyimpulkannya terlihat juga dari penggunaan istilah-istilah seperti nazhara, tafakkur, tadabbur, dan sebagainya yang semuanya mengandung makna mengantar kepada pengertian dan kemampuan pemahaman. Kedua, bermakna dorongan moral, M. Quraish Shihab, 2005 sebagaimana firman-Nya yang 108 artinya ... dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak atau tersembunyi dan jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang benar M. Quraish Shihab, 2005. Demikian itu diwasiatkan Tuhan kepadamu semoga kamu memiliki dorongan moral untuk meninggalkannya. Q. S. al-An`am 151. Ketiga, Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah. Untuk maksud ini biasanya digunakan kata rusyd. Daya ini menggabungkan kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisis dan menyimpulkan serta dorongan moral yang disertai dengan kematangan berfikir. Seseorang yang yang memiliki dorongan moral, boleh jadi tidak memiliki daya nalar yang kuat dan boleh jadi pula seseorang yang memiliki daya pikir yang kuat, tidak memiliki dorongan moral, tetapi seseorang yang memiliki rusyd, maka dia telah menggabungkan kedua keistimewaan tersebut. Dari sini dapat dimengerti mengapa penghuni neraka di hari kemudian berkata โ€œ Seandainya kami mendengar dan berakal maka pasti kami tidak termasuk penghuni neraka.โ€ Q. S al-Mulk 10. Kata al-`aql dalam Alquran juga bermakna intelellect. Dalam penggunaannya kata al-`aql mengandung pengertian kemampuan berpikir atau menggunakan nalar. Kata ini telah terserap ke dalam bahasa Indonesia yaitu kata akal. Dalam perkembangannya orang yang memiliki kemampuan berpikir dan nalar sangat tinggi, serta menguasasi suatu pengetahuan tertentu secara sistematis lazim disebut pakar. Seorang pakar belum tentu seorang sarjana. Kata intelektual yang artinya sebanding dengan ulu al-bรขb adalah orang yang memiliki dan menggunakan daya intelek pikiran untuk bekerja atau melakukan kegiatannya. Biasanya intelektual adalah orang yang berpendidikan akademis M. Dawam Rahardjo, 2002. Secara harfiah, intelektual adalah orang yang memiliki intelek yang kuat atau intelegensi yang tinggi. Intelegensi adalah kemampuan kognitif atau kemampuan memahami yang dimiliki seseorang untuk berfikir dan bertindak rasional atau berdasar nalar. Kemampuan tersebut bisa diperoleh karena keturunan atau bakat yang ada pada seseorang dari faktor biologisnya, tetapi bisa pula diperoleh sebagai hasil pengalaman lingkungan dan sosialisasi berdasarkan penerimaan norma-norma yang baik-buruk dan benar-salah menurut masyarakat M. Dawam Rahardjo, 2002. Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa akal yang berasal dari kata aql merupakan daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, memiliki dorongan moral, serta memiliki daya untuk mengambil pelajaran dan hikmah. Akal dalam perspektif hadits Terkait dengan hadits Nabi, tentunya banyak uraian mengenai akal, khususnya bila dikaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Berikut ini beberapa hadits Nabi yang mengulas mengenai akal serta berbagai fungsinya. โ€œSesungguhnya yang pertama-tama Allรขh ciptakan adalah akal. Allรขh berkata kepadanya, datang menghadaplah!โ€™. Maka iapun datang menghadap. Allรขh berkata 109 kepadanya, mundurlah ke belakang!โ€™. Maka iapun mundur ke belakang. Lalu Allรขh berfirman, Demi kemuliaan-Kรป, Akรป tidaklah menciptakan makhluk yang lebih mulia darimu atas-Kรป. Dengan sebabmulah Akรป menyiksa, dengan sebabmulah Akรป memberi, bagimulah pahala dan atasmulah hukuman.โ€ Dalam hadits, Rasulullah SAW menjunjung tinggi akal sampai-sampai dikatakan bahwa seseorang dianggap tidak beragama manakala tidak memiliki akal di dalamnya. Nabi Muhammad SAW bersabda, sebagaimana diuraikan di dalam Kitab Ihya Ulum al-Din, bahwa โ€œorang alim itu adalah orang kepercayaan Allah di bumi-Nyaโ€ lebih dari itu โ€œpada hari kiamat nanti yang memberi syafaat adalah nabi-nabi, para ulama kemudian para syuhada.โ€ Imam al-Ghozali, 1986. Islam sangat peduli dengan potensi akal pikiran manusia. Berkali-kali Allah SWT menyebutkan perihal akal, orang yang berakal, serta penggunaan akal pikiran. Misalnya saja kalimat โ€œafala taโ€™qilunโ€, โ€œafala tatadabbarunโ€, dan sebagainya. Demikian pula di dalam hadis, banyak ditemukan isyarat pentingnya akal dalam beragama. Rasulullah SAW menegaskan bahwa akal merupakan substansi agama. ๎ฅž ๎˜ƒ๓ฐ†ถ๓ฐ‘ƒ๓ฐ†น๓ฐ’Ÿ๓ฐ‡ผ๓ฐ‹…๓ฐƒ๓ฐžฑ๓ฐˆ‰ ๎˜ƒ๓ฐ†ต๓ฐ‘ธ๓ฐ†ถ๓ฐ‘ ๎˜ƒ๓ฐ†ถ๓ฐ‘๓ฐ†น๓ฐŽž๓ฐ†ต๓ฐœ๓ฐžต๓ฐƒ๓ฐˆ‰ , ๎˜ƒ๓ฐ†น๓ฐ‘ƒ๓ฐ†ต๓ฐœ๓ฐ†ต๓ฐ‘ง ๎˜ƒ๓ฐ†ต๓ฐ‘ƒ๓ฐ†น๓ฐ’Ÿ๓ฐ†ท๓ฐŠถ๓ฐ†ต๓ฐกœ ๎˜ƒ๓ฐ†ถ๓ฐ‘˜๓ฐžฑ๓ฐƒ ๎˜ƒ๓ฐ†ต๓ฐกœ ๎˜ƒ๓ฐ†ต๓ฐ‘๓ฐ†น๓ฐŽž๓ฐ†ต๓ฐ” ๎˜ƒ๓ฐ†ถ๓ฐ‘˜๓ฐžฑ๓ฐƒ โ€œAgama adalah akal pikiran, barangsiapa yang tidak ada agamanya, maka tidak ada akal pikirannyaโ€. HR. An-Nasa`i. Hadits tersebut secara tersirat menjelaskan betapa urgen dan vitalnya akal bagi seorang yang beragama. Sehingga seorang yang tidak beragama maka sesungguhnya ia tidak berakal. Agama sesuai dengan akal sehat. Perintah, anjuran, suruhan, dan kewajiban agama relevan dengan pemikiran manusia yang sehat dan normal. Demikian pula hal-hal yang menjadi larangan, bertentangan dengan akal sehat. Karena itu, orang yang tidak beragama, sama artinya dengan orang yang tidak memiliki akal pikiran yang sehat dan normal. Itulah sebabnya, seseorang yang tidak memiliki akal sehat, tidak muakllaf, sama dengan anak-anak atau bayi yang belum tahu dan bisa membedakan baik dan buruk, sebagai fungsi dari akalnya. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa agama adalah masalah akal dan penggunaannya haruslah sesuai dengan ketentuan dan batasan yang telah ditetapkan serta tidak mengakibatkan berfikir secara mutlak dan absolut yang dapat merugikan manusia itu sendiri. 110 Kecerdasan dalam perspektif al-quran Apabila kita meneliti ayat-ayat al-Quran, kata-kata yang memiliki arti kecerdasan, sebagaimana yang telah dijelaskan tersebut di atas, yaitu al-Fathanah, adz-dzakaโ€™, al-hadzaqah, an-nubl, an-najabah, dan al-kayyis tidak digunakan oleh al-Quran. Definisi kecerdasan secara jelas juga tidak ditemukan, tetapi melalui kat-kata yang digunakan oleh al-Qurโ€™an dapat disimpulkan makna kecerdasan. Kata yang banyak digunakan oleh al-Quran adalah kata yang memiliki makna yang dekat dengan kecerdasan, seperti kata yang seasal dengan kata al-aql, al-lubb, al-fikr, al-Bashar, al-nuha, al-fiqh, al-fikr, al-nazhar, al-tadabbur, dan al-dzikr. Kata-kata tersebut banyak digunakan di dalam al-Quran dalam bentuk kata kerja, seperti kata taโ€™qilun. Para ahli tafsir, termasuk di antaranya Muhammad Ali Al-Shabuni, menafsirkan kata afala taโ€™qilun โ€œapakah kamu tidak menggunakan akalmuโ€. Dengan demikian kecerdasan menurut al-Qurโ€™an diukur dengan penggunaan akal atau kecerdasan itu untuk hal-hal positif bagi dirinya maupun orang lain. Kata-kata yang memiliki makna yang dekat mirip dengan kecerdasan yang banyak digunakan di dalam al-Quran adalah; Alโ€“Aql, yang berarti an-Nuha kepandaian, kecerdasan. Akal memiliki makna menahan, karena memang akal dapat menahan kepada empunya dari melakukan hal yang dapat menghancurkan dirinya. Kata aql tidak pernah disebut sebagai nomina ism, tapi selalu dalam bentuk kata kerja fiโ€™l. Di dalam al-Quran kata yang berasal dari kata aql berjumlah 49 kata, semuanya berbentuk fiโ€™l mudhariโ€™, hanya 1 yang berbentuk fiโ€™l madhi. Dari banyaknya penggunaan kata-kata yang seasal dengan kata aql, dipahami bahwa al-qurโ€™an sangat menghargai akal, dan bahkan Khithab Syarโ€™i Khithab hukum Allah hanya ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Banyak sekali ayat-ayat yang mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya. Di sisi lain penggunaan kata yang seasal dengan aql tidak berbentuk nomina ism tapi berbentuk kata kerja fiโ€™l menunjukkan bahwa al-Quran tidak hanya menghargai akal sebagai kecerdasan intelektual semata, tapi al-qurโ€™an mendorong dan menghormati manusia yang menggunakan akalnya secara benar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sternberg yang dikutip oleh Agus Efendi, โ€œTes IQ sesungguhnya bukan pada seberapa banyak kecerdasan yang anda miliki dalam otak anda. Akan tetapi bagaimana anda menggunakan kecerdasan yang harus anda buat menjadi dunia yang lebih baik bagi diri anda sendiri, dan orang lain.โ€ Kecerdasan lebih merupakan sesuatu yang anda gunakan. Itulah yang dimaksud dengan kecerdasan majemuk sebagaimana disampaikan oleh Horward Gordner, kecerdasan yang mencakup banyak aspek kehidupan, bukan kecerdasan intelektual semata. 111 Bentuk dari kata aql yang dirangkaikan dalam sebuah kalimat pertanyaan, seperti afala taโ€™qilun apakah kamu tidak menggunakan akalmu terdapat 13 buah di dalam al-Qurโ€™an. Hal ini menunjukkan bahwa Allah swt. mempertanyakan kecerdasan mereka, dengan akal yang sudah diberikan. Al-Lubb atau al-Labib, yang berarti al-aql atau al-aqil, dan al-labib sama dengan al-aql. Di dalam al-Quran Kata al-albab disebut 16 kali, dan kesemuanya didahului dengan kata ulu atau uli yang artinya pemilik, ulu al-albab berarti pemilik akal. Al-bashar, yang berarti indra penglihatan, juga berarti ilmu. Di dalam Kamus Lisan al Arab, Ibn Manzhur mengemukakan bahwa ada pendapat yang mengatakan ; al-bashirah memiliki maโ€™na sama dengan al-fithnah kecerdasan dan al-hujjah argumentasi. Al-Jurjani mendefinisikan al-Bashirah, adalah suatu kekuatan hati yang diberi cahaya kesucian, sehingga dapat melihat hakikat sesuatu dari batinnya. Para ahli hikmah menamakannya dengan ; al-aqilah an-nazhariyyah wa alquwwah al-qudsiyyah kecerdasan bepikir dan kekuatan suci atau ilahi. Abu Hilal al-Askari membedakan antara al-bashirah dan al-ilm ilmu, bahwa al-bashirah adalah kesempurnaan ilmu dan pengetahuan. Di dalam al-Quran, kata yang berasal dari kata al-bashar, dengan berbagai macam bentuk, jumlahnya cukup banyak, yaitu berjumah 142 kata, yang berbentuk kata al-bashir berjumlah 53 kata, hampir kesemuanya menjadi sifat Allah swt. kecuali 6 kata yang menjadi sifat manusia, 4 diantaranya kata al-bashir menjelaskan perbedaan antara manusia yang buta dan melihat. Sedangkan kata bashirah terdapat pada 2 ayat, yaitu pada surah Yusuf 108 dan al-qiyamah 14. sedangkan kata bashair yaitu bentuk jamaโ€™ dari bashirah disebut dalam al-Quran sebanyak 5 kali. Dalam menafsirkan kata bashirah yang ada pada surat Yusuf 108, al-Baghawi dan Sayyid Thanthawi menjelaskan maโ€™na al-bashirah adalah pengetahuan yang dengannya manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Kata al-abshar yaitu bentuk jamaโ€™ dari al-bashar berjumlah 8 ayat, 3 diantaranya didahului kata ulu mempunyai, yaโ€™ni Surah Ali Imran 13, an-Nur 44, dan al-Hasyr 2. An-Nuha, maknanya sama dengan al-aql, dan akal dinamakan an-nuha yang juga memiliki arti mencegah, karena akal mencegah dari keburukan. Kata an-nuha di dalam al-Quran terdapat pada 2 tempat, keduanya ada pada Surat thaha ; 54, 128 dan keduanya diawali dengan kata uli pemilik. Al-fiqh yang berarti pemahaman atau ilmu. Di dalam al-Quran, Kata yang seasal dengan al-Fiqh terdapat pada 20 ayat, kesemuanya menggunakan kata kerja fiโ€™l mudhariโ€™, hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan 112 pemahaman itu seharusnya dilakukan secara terus menerus. Kata al-fiqh juga berarti al-fithnah kecerdasan. Al-Fikr, yang artinya berpikir. Kata yang seakar dengan al-fikr terdapat pada 18 ayat. Kesemuanya berasal dari bentuk kata at-tafakkur, dan semuannya berbentuk kata kerja fiโ€™l, hanya satu yang berbentuk kata fakkara, yaitu pada Surat al-Mudatstsir 18. Al-Jurjani mendefinisikan, at-tafakkur adalah pengerahan hati kepada makna sesuatu untuk menemukan sesuatu yang dicari, sebagai lentera hati yang dengannya dapat mengetahui kebaikan dan keburukan. An-nazhar yang memiliki makna melihat secara abstrak berpikir, Di dalam kamus Taj al-Arus disebutkan termasuk makna an-nazhar adalah menggunakan mata hati untuk menemukan segala sesuatu, an-nazhar juga berarti al-iโ€™tibar mengambil pelajaran, at-taammul berpikir, al-bahts meneliti. Untuk membedakan antara an-nazhar dan al-Ruโ€™yah, Abu Hilal al-Askari memberikan definisi bahwa al-nazhar adalah mencari petunjuk, juga berarti melihat dengan hati. Di dalam al-Quran terdapat kata yang seasal dengan an-nazhar lebih dari 120 ayat At-tadabbur yang semakna dengan at-tafakkur, terdapat dalam al-Quran sebanyak 8 ayat. Al-Jurjani memberikan definisi at-tadabbur, adalah berpikir tentang akibat suatu perkara, sedangkan at-tafakkur adalah pengerahan hati untuk berpikir tentang dalil petunjuk. Adz-dzikr yang berarti peringatan, nasehat, pelajaran. Dalam al-Quran terdapat kata yang seasal dengan adz-dzikr berjumlah 285 kata, 37 diantaranya adalah yang berasal dari bentuk kata at-tadzakkur yang berarti mengambil pelajaran. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan dalam perspektif al-qurโ€™an memiliki beberapa makna yang dekat dengan arti kecerdasan, diantaranya al-aql, al-lubb, al-fikr, al-Bashar, al-nuha, al-fiqh, al-fikr, al-nazhar, al-tadabbur, dan al-dzikr. Kecerdasan dalam perspektif hadits Dari pandangan manusia, kecerdasan selalu berurusan dengan dunia. Hal ini tentunya berbeda dengan cara pandang Rasulullah SAW yang menyebutkan kalau orang yang memiliki kecerdasan adalah mereka yang selalu mengingat tentang kematian. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar RA, yakni "Manusia yang paling utama adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Manusia yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat 113 kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang berakal." Penjelasan hadits tersebut adalah bagi mereka yang selalu mengingat kematian termasuk orang yang cerdas. Dikatakan cerdas karena mereka akan selalu memperbanyak amalan baik dan ibadah yang akan mengantarkan mereka ke surga. Disamping itu, mereka juga tidak hanya terpaku pada duniawi yang bersifat sementara. Bahkan, salah seorang sahabat Rasulullah SAW pun pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling cerdas ?" Rasulullah SAW menjawab ๎˜ƒ๎ฃฒ๎ฆฑ๎ฆŽ๎ฃด๎งด๎ฃธ๎ง›๎ฃด๎ฆƒ๎˜ƒ๎ฃด๎งš๎ฃถ๎ฆŒ๎ฃด๎งŸ๎งญ๎ฃต๎ฆƒ๎˜ƒ๎ฃฌ๎ฆ๎ฃฑ๎ฆฉ๎ฆ๎ฃด๎ฆช๎ฃธ๎งŒ๎ฃถ๎ฆ˜๎ฃธ๎ฆณ๎ฆ๎˜ƒ๎ฃต๎งฉ๎ฃด๎ฆช๎ฃธ๎งŒ๎ฃด๎ฆ‘๎˜ƒ๎ฆŽ๎ฃด๎งค๎ฃถ๎งŸ๎˜ƒ๎ฃธ๎งข๎ฃต๎งฌ๎ฃต๎งจ๎ฃด๎ฆด๎ฃธ๎ฆฃ๎ฃด๎ฆƒ๎ฃด๎งญ๎˜ƒ๎ฆ๎ฃฑ๎ฆฎ๎ฃธ๎ง›๎ฃถ๎ฆซ๎˜ƒ๎ฃถ๎ฆ•๎ฃธ๎งฎ๎ฃด๎งค๎ฃธ๎ง ๎ฃถ๎งŸ๎˜ƒ๎ฃธ๎งข๎ฃต๎งซ๎ฃต๎ฆฎ๎ฃด๎ฆœ๎ฃธ๎ง›๎ฃด๎ฆƒ "Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas." HR Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsami. Dalam hadits lain Rasulullah SAW menjelaskan "Orang yang cerdas adalah yang menekan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang dungu adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan mengangankan kepada Allah berbagai angan-angan.". HR At-Tirmidzi. ๎˜ƒ๎ฃด๎ฆ“ ๎ฃด๎งญ๎ฃธ๎ฆฎ๎ฃด๎ง“ ๎˜ƒ๎ฃธ๎งฆ๎ฃด๎ง‹ ๎˜ƒ๎ฃถ๎ฅ‰๏˜ƒ ๎˜ƒ๎ฃถ๎ฆช๎ฃธ๎ฆ’๎ฃด๎ง‹ ๎˜ƒ๎ฃต๎งฆ๎ฃธ๎ฆ‘ ๎˜ƒ๎ฃต๎งŠ๎ฃถ๎ง“๎ฆŽ๎ฃด๎งง ๎ฆŽ๎ฃด๎งจ๎ฃด๎ฆ›๎ฅ‰๎ฆช๎ฃด๎ฆฃ. ๎˜ƒ๎ฃณ๎ฆฝ๎ฆŽ๎ฃด๎งด๎ฃถ๎ง‹ ๎˜ƒ๎ฃต๎งฆ๎ฃธ๎ฆ‘ ๎˜ƒ๎ฃต๎ฆฒ๎ฃด๎งง๎ฃด๎ฆƒ ๎˜ƒ๎ฆŽ๎ฃด๎งจ๎ฃด๎ฆ›๎ฅ‰๎ฆช๎ฃด๎ฆฃ. ๎˜ƒ๎ฃณ๎ฆญ๎ฆŽ๎ฅ‰๎งœ๎ฃด๎ฆ‘ ๎˜ƒ๎ฃต๎งฆ๎ฃธ๎ฆ‘ ๎˜ƒ๎ฃต๎ฆฎ๎ฃธ๎งด๎ฃด๎ฆ‘๎ฅŠ๎ฆฐ๎งŸ๎ฆ ๎ฆŽ๎งจ๎ฆ›๎ฃท๎ฆช๎ฆฃ. ๎˜ƒ๎ฃถ๎ฅ‰๏˜ƒ ๎˜ƒ๎ฃถ๎ง๎งฎ๎ฃต๎ฆณ๎ฃด๎ฆญ ๎˜ƒ๎ฃด๎งŠ๎ฃด๎งฃ ๎˜ƒ๎ฃต๎ฆ–๎ฃธ๎งจ๎ฃต๎ง› ๎˜ƒ๎ฃด๎ง๎ฆŽ๎ฃด๎ง— ๎˜ƒ๎ฃต๎งช๎ฅ‰๎งง๎ฃด๎ฆƒ ๎ฃฌ ๎˜ƒ๎ฃด๎ฆฎ๎ฃด๎งค๎ฃต๎ง‹ ๎˜ƒ๎ฃถ๎งฆ๎ฃธ๎ฆ‘๎ฆ ๎˜ƒ๎ฃถ๎งฆ๎ฃด๎ง‹ ๎ฃฌ๎ฃณ๎ฆก๎ฆŽ๎ฃด๎ฆ‘๎ฃด๎ฆญ ๎งฒ๎ฃถ๎ฆ‘๎ฃด๎ฆƒ ๎˜ƒ๎ฃถ๎งฆ๎ฃธ๎ฆ‘ ๎˜ƒ๎ฃถ๎ฃฏ๎ฆŽ๎ฃด๎ง„๎ฃด๎ง‹ ๎˜ƒ๎ฃธ๎งฆ๎ฃด๎ง‹ ๎ฃฌ๎ฃณ๎ฆฒ๎ฃธ๎งด๎ฃด๎ง— ๎˜ƒ๎ฃถ๎งฆ๎ฃธ๎ฆ‘๎˜ƒ๎ฅŠ๎งฑ๎ฃด๎ฆƒ ๎˜ƒ๎ฃถ๎ฅ‰๏˜ƒ ๎˜ƒ๎ฃด๎ง๎งฎ๎ฃต๎ฆณ๎ฃด๎ฆญ ๎ฆŽ๎ฃด๎งณ ๎˜ƒ๎ฃด๎ง๎ฆŽ๎ฃด๎ง— ๎˜ƒ๎ฅ‰๎งข๎ฃต๎ฆ›. ๎˜ƒ๎ฃท๎ฃถ๎งฒ๎ฃถ๎ฆ’๎ฅ‰๎งจ๎งŸ๎ฆ ๎งฐ๎ฃด๎ง ๎ฃด๎ง‹ ๎˜ƒ๎ฃด๎งข๎ฅ‰๎ง ๎ฃด๎ฆด๎ฃด๎ง“. ๎˜ƒ๎ฃถ๎ฆญ๎ฆŽ๎ฃด๎ฆผ๎˜ƒ๎ฃธ๎งง๎ฃด๎งท๎ฆ ๎˜ƒ๎ฃด๎งฆ๎ฃถ๎งฃ ๎˜ƒ๎ฃฒ๎งž๎ฃต๎ฆŸ๎ฃด๎ฆญ ๎˜ƒ๎ฃต๎งฉ๎ฃด๎ฃฏ๎ฆŽ๎ฃด๎ฆ ๎ฃด๎ง“ ๎˜ƒ๎ฃด๎งฆ๎งด๎ฃถ๎งจ๎ฃถ๎งฃ ๎ฃธ๎ฆ†๎ฃต๎งค๎ฃธ๎งŸ๎ฆ ๎˜ƒ๎ฃถ๎ฆ•๎ฃธ๎งฎ๎ฃด๎งค๎ฃธ๎ง ๎ฃถ๎งŸ ๎˜ƒ๎ฃธ๎งข๎ฃต๎งซ๎ฃต๎ฆฎ๎ฃด๎ฆœ๎ฃธ๎ง›๎ฃด๎ฆƒ ๎˜ƒ๎ฃด๎ง๎ฆŽ๎ฃด๎ง— ๎ฃฎ ๎˜ƒ๎ฃต๎ฆฒ๎ฃด๎งด๎ฃธ๎ง›๎ฃด๎ฆƒ ๎˜ƒ๎ฃด๎งฆ๎งด๎ฃถ๎งจ๎ฃถ๎งฃ ๎ฃธ๎ฆ†๎ฃต๎งค๎ฃธ๎งŸ๎ฆ ๎˜ƒ๎ฅŠ๎งฑ๎ฃด๎ฆ„๎ฃด๎ง“ ๎˜ƒ๎ฃด๎ง๎ฆŽ๎ฃด๎ง— ๎˜ƒ๎ฃฑ๎ฆŽ๎ง˜๎ฃต๎ง ๎ฃต๎ฆง ๎˜ƒ๎ฃธ๎งข๎ฃต๎งฌ๎ฃต๎งจ๎ฃด๎ฆด๎ฃธ๎ฆฃ๎ฃด๎ฆƒ ๎˜ƒ๎ฃด๎ง๎ฆŽ๎ฃด๎ง— ๎ฃฎ๎ฃต๎งž๎ฃด๎ง€๎ฃธ๎ง“๎ฃด๎ฆƒ๎˜ƒ๎งช๎ฆŸ๎ฆŽ๎งฃ ๎งฆ๎ฆ‘๎ฆ ๎งฆ๎งจ๎ฆณยป. ๎˜ƒ๎ฃต๎ฆฑ๎ฆŽ๎ฃด๎งด๎ฃธ๎ง›๎ฃด๎งท๎ฆ ๎˜ƒ๎ฃด๎งš๎ฃถ๎ฆŒ๎งŸ ๎ฃธ๎งญ๎ฃต๎ฆƒ. ๎˜ƒ๎ฃฑ๎ฆ๎ฆฉ๎ฆ๎ฃด๎ฆช๎ฃธ๎งŒ๎ฃถ๎ฆ˜๎ฃธ๎ฆณ๎ฆ ๎˜ƒ๎ฃต๎งฉ๎ฃด๎ฆช๎ฃธ๎งŒ๎ฃด๎ฆ‘ ๎ฆŽ๎ฃด๎งค๎ฃถ๎งŸ ๎˜ƒ๎ฃธ๎งข๎ฃต๎งฌ๎ฃต๎งจ๎ฃด๎ฆด๎ฃธ๎ฆฃ๎ฃด๎ฆƒ๎ฃด๎งญ ๎ฃฌ ๎˜ƒ๎ฃฑ๎ฆ๎ฆฎ๎ฃธ๎ง›๎ฃถ๎ฆซ โ€œSiapa diantara orang mukmin yang terbaik ya Rasulullah ? โ€ Beliau menjawab โ€yang paling baik akhlaknyaโ€. Lalu ditanya lagi,โ€siapa yang paling cerdasโ€. Beliau menjawab,โ€ yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap mempersiapkan setelah kematian, mereka yang sangat cerdasโ€. HR Ibnu Majah . 114 Rasulullah SAW juga menjelaskan "Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang yang cerdas." HR. At-Tirmidzi. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan dalam perspektif hadits adalah orang yang bisa menahan hawa nafsunya, paling banyak beramal untuk mengingat akan kematian dan paling siap dengan bekal setelah kematian. Fungsi Akal/Kecerdasan Dalam Pendidikan Islam Pendidikan merupakan โ€œhuman investmentโ€ yang bisa dijadikan sebagai tatanan strategis untuk melahirkan generasi yang gemilang di masa mendatang. Pencaharian paradigma pendidikan Islam yang lebih baik akan menjadi tanggung jawab bersama terutama civitas akademika di era millenial sekarang ini. Peradaban masyarakat maju atau masyarakat madani civil society adalah masyarakat yang memiliki pengetahuan sebagaimana tergambar pada masa kejayaan umat Islam sudah menjadi suatu keharusan bagi masyarakat Islam terutama yang hendak mengambil kembali masa-masa kejayaan. Untuk mengambil kembali masa kegemilangan maupun kecemerlangan dalam sejarah kemajuan umat islam maka sudah barang tentu pendidikan merupakan jawaban satusatunya yang dapat membangunkan tidur bagi para pencinta kemajuan karena pada dasarnya Islam adalah agama kemajuan dan ilmu pengetahuan.โ€ Dengan demikian pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada peran ganda baik sebagai tadhakkur dan tafakkur. Tadhakkur adalah bagian dari bagaimana pendidikan Islam dapat mengarahkan, merespons, menghargai serta mengkarakterisasi menuju kesempurnaan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan peran tafakkur dalam pendidikan Islam adalah sebagai sebuah alat kontrol bagaimana konsep tadhakkur berjalan sesuai dengan peran dan fungsinya. Hal ini menunjukkan bahwasannya peran pendidikan Islam sebagai sebuah paradigma tadhakkur harus senantiasa membumi dalam perilaku kehadupan sehari-hari.โ€ Muhammad Mahfudz, 2006. Oleh karena itu pembentukan kepribadian menuju kesempurnaan nilai-nilai kemanusiaan maka harus senantiasa diarahkan pada nilai-nilai bawaan fitrah dengan mengacu pada konsep taโ€™alluq, takhalluq, dan tahakkuq. Ketiga konsep tersebut merupakan perpaduan di antara kecerdasan akal, hati, dan emosional. Keterpaduan dari ketiga pilar tersebut merupakan tangga untuk mencapai derajat tertinggi baik Akal Dalam Perspektif 15 Wasehudin 115 Pendidikan Islam Telaah Reflektif Filsafat Terhadap Ayat-Ayat Alquran dirinya sebagai hamba Allah abdullah maupun wakil Allah khalifatulah di muka bumi.โ€ Ahmad Fadlali, 2009. Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa fungi akal yang barengi dengan kecerdasan yang baik dalam pendidikan Islam, dengan konsep tadhakkur, tadabbur, tafakkur serta memiliki ilmu pengetahuan dan keimanan, memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka mewujudkan pendidikan Islam yang berkualitas. Kesimp ula n Dari beberapa pemaparan yang telah disampaikan diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut Pertama, Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk sempurna yang menjadi pembeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Kedua, Akal manusia merupaka karunia dari Allah SWT, yang digunakan untuk berfikir, mengerti, dapat memahami sesuatu, dari dalam diri manusia itu sendiri, sehingga manusia memiliki kesiapan untuk menyerap segala sesuatunya. Ketiga, Agama adalah masalah akal dan penggunaannya haruslah sesuai dengan ketentuan dan batasan yang telah ditetapkan serta tidak mengakibatkan berfikir secara mutlak dan absolut yang dapat merugikan manusia itu sendiri. Keempat, Kecerdasan manusia digambarkan melalui kemampuan manusia itu sendiri yang dapat menahan hawa nafsunya, yang paling banyak beramal untuk mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Kelima, Dalam konteks kehidupan manusia saat ini, kecerdasan dimaksud diantaranya meliputi kecerdasan IQ Intellegence Quotient, EQ Emotional Quotient, dan SQ Spiritual Quotient serta bahkan ada kecerdasan lainnya sebagai bagian dari potensi seseorang yang harus selalu diasah dan dikembangkan. Keenam, Fungi akal yang barengi dengan kecerdasan yang baik dalam pendidikan Islam, dengan konsep tadhakkur, tadabbur, tafakkur serta memiliki ilmu pengetahuan dan keimanan, memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka mewujudkan pendidikan Islam yang berkualitas. Daftar Pusta ka Agus Nggermanto, Quantum Quotient Kecerdasan Quantum Bandung Nuansa, 2005. Ahmad Fadlali, Fitrah Akliyah Dalam Pendidikan Islam, Forum Tarbiyah Vol. 7 no. 2 Desember 2009. Ahmad Heriyanto, Hubungan Kecerdasan Emosional Dalam Meningkatkan Hafalan AlQurโ€™an Surat An Nabaโ€™ Santri Kelas I A Madrasah Aliyah Palembang Skripsi, 2017. Akhmad Muhaimin Azzed, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Bagi Anak, Jogjakarta Ar-Ruzz Media, 2014. 116 Akhmeda Farkhaeni, Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Konsep Diri Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Jakarta Jakarta Skripsi, 2011. Arisha Yonna Tanu, Ikhlas Menurut Islam, Dalam Http//Apa Yang Dimaksud Dengan Ikhlas Menurut Para Ahli// Diakses Pada 12 Mei 2018 Pukul Wib Ary Ginanjar Agustin, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional Dan Spiritual ; Esq Jakarta Arga 2002. Ary Ginanjar Agustian, Esq Power Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan, Jakarta Arga, 2004. Ary Ginanjar Agustian, Esq The Esq Way 165 Berdasarkan 1 Ihsan 6 Rukun Iman Dan 5 Rukun Islam, Jakarta Arga, 2005. A. W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, Surabaya Pustaka progressif, 1997. Dakir Dan Sardimi, Pendidikan Islam Dan Esq Komparasiintregatif Upaya Menuju Stadium Insan Kamil, Semarang Rasail Media Group, 2011. Dana Frasetya, Hubungan Antara Tingkat Kecerdasan Intelektual Dan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Dengan Prestasi Belajar Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan Siswa Kelasvii Di Smp Negeri 4 Gamping Tahun Pelajaran 2014/2015, Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta, 2015. Danah Zohar Dan Ian Marshall, Sq Kecerdasan Spiritual, Bandung Pt Mizan Pustaka, 2007. Daniel Goleman, Working With Emotional Inteligence, Terj. Alex Tri Kantjono Widodo, Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi Jakarta Pt Gramedia Pustaka Utama, 2005. Daniel Goleman, Emosional Intelegence Mengapa Eq Lebih Penting Dari Pada Iq Jakarta Pt Gramedia Pustaka Utama, 2007. Darudijo Rommel Jachja, Analisis Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Spiritual Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Karyawan Studi Di Pt. Multiguna International Persada. Daryanto, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Surabaya Apollo, 2006. Febri Sulistiya, Pengaruh Tingkat Kecerdasan Intelektual Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Jasmani, Olahraga Dan Kesehatan Pada Siswa Di Smpn 15 Yogyakarta, Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta, 2016. Hairul Anam Dkk, Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Spiritual Dan Kecerdasan Sosial Terhadap Pemahaman Akuntansi, Balikpapan Jurnal Sains Terapan. Harun Nasution, Muhammad Abduh, Baca pula Muhammad Abduh, Risalah al-Tawhid, Kairo Dar al-Manar, 1993. Imam al-Ghazali. Mukhtashar Ihya Ulumuddin Jakarta Pustaka Amani, 1986. 117 Imam al-Ghazali, Ilmu dalam Perspektif Tasawuf al-Ghazali, terj. Muhammad a-Baqir, Bandung karisma, 1996. Intan Purwasih, Pengaruh Intensitas Menghafal Al-Qurโ€™an Terhadap Kecerdasan Spiritual Santri Salatiga Skripsi, 2011. Makmun Mubayidh, Ad-Dzakaโ€™ Al Athifi Wa Ash Shihah Al Athifiyah, Terj. Muhammad Muhson Anasy, Kecerdasan & Kesehatan Emosional Anak, Jakarta Pustaka Al-Kautsar, 2006. Mimi Doe & Marsha Walch, 10 Prinsip Spiritual Parenting Bagaimana Menumbuhkan Dan Merawat Sukma Anak Anda. Bandung Kaifa, 2001. M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi al-Qur`an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, Jakarta Paramadina, 2002. Muhammad Mahfudz, Peran Akal Dalam Surat Ali Imran Ayat 190-191 dan Implikasinya dalam Pendidikan Islam Semarang Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2006. M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur`an, Bandung Mizan, 2005. Nash Hamid Abu Zaid, Menalar Firman Tuhan, Wacana Majaz dalam al-Qur`an Menurut Mu`tazilah, terj. Abdurrahman Kasdi dan Hamka Hasan, Bandung Mizan, 2003. Prima Vidya Asteria, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Melalui Pembelajaran Membaca Sastra, Malang Ub Press, 2014. Rabiโ€™ bin Hadi โ€œUmar Al-Madkhaly, Cara Para Nabi Berdakwah, terj. Muhtarudin Abrari, Tegal Maktabah Salafy Press, 2002. Rustam Hanafi, Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosional Dan Performa Auditor, Semarang Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Rusโ€™an, Spiritual Quotient Sq The Ultimate Intelligence, Palu Jurnal Lentera Pendidikan, Vol. 16 2013. Siti A. Toyibah Dkk, Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Penghafal Alquran, Bandung Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017. Sukidi, Rahasia Sukses Hidup Bahagia, Mengapa Sq Lebih Penting Dari Pada Iq Dan Eq. Jakarta Pt Gramedia Pustaka Utama, 2004. Steven S. Stein Dan Howard, The Edge Emotional And Your Succes, Terj. Trinada Rainy Ledakan Eq 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses, Bandung Kaifa, 2003. Syamsu Yusuf Dan A. Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan Dan Konseling, Bandung Pt Remaja Rosdakarya, 2010. Tim Redaksi, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III, Jakarta Balai Pustaka, 2005. Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jilid 1, Jakarta Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005. Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah Transendenta Intelegensi Membentuk Kepribadian Yang Bertanggung Jawab Profesional Dan Berakhlak, Jakarta Insani, 2001. Triantoro Safaria, Spiritual Intellegence Metode Pengembangan Kecerdasan Spiritual Anak, Jakarta Graha Ilmu, 2007. 118 Triantoro Safaria Dkk, Managemen Emosi Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda, Jakarta Bumi Aksara, 2012. W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, edisi III Jakarta Balai Pustaka, 2007. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Wib Ary Ginanjar Agustin, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional Dan SpiritualTanu Arisha YonnaArisha Yonna Tanu, Ikhlas Menurut Islam, Dalam Http//Apa Yang Dimaksud Dengan Ikhlas Menurut Para Ahli// Diakses Pada 12 Mei 2018 Pukul Wib Ary Ginanjar Agustin, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional Dan Spiritual ; Esq Jakarta Arga 2002.Ary Ginanjar AgustianAry Ginanjar Agustian, Esq Power Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan, Jakarta Arga, 2004.Esq The Esq Way 165 Berdasarkan 1 Ihsan 6 Rukun Iman Dan 5 Rukun IslamAry Ginanjar AgustianAry Ginanjar Agustian, Esq The Esq Way 165 Berdasarkan 1 Ihsan 6 Rukun Iman Dan 5 Rukun Islam, Jakarta Arga, 2005.A W MunawwirA. W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, Surabaya Pustaka progressif, 1997.Dan DakirSardimiDakir Dan Sardimi, Pendidikan Islam Dan Esq Komparasiintregatif Upaya Menuju Stadium Insan Kamil, Semarang Rasail Media Group, 2011.Danah Zohar Dan Ian MarshallDanah Zohar Dan Ian Marshall, Sq Kecerdasan Spiritual, Bandung Pt Mizan Pustaka, 2007.Working With Emotional InteligenceDaniel GolemanDaniel Goleman, Working With Emotional Inteligence, Terj. Alex Tri Kantjono Widodo, Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi Jakarta Pt Gramedia Pustaka Utama, 2005.DaryantoDaryanto, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Surabaya Apollo, 2006.Dawam RahardjoM. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi al-Qur`an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, Jakarta Paramadina, 2002.

ayat alquran tentang kecerdasan